• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Local Wisdom
  • Post last modified:11 Februari 2022
  • Reading time:5 mins read

Bagi orang Papua, babi tak sekedar hewan piaran. Ada nilai lebih dari hewan ternak ini dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, Bahkan menabrak babi akan menimbulkan masalah besar bagi pelakunya.

//////////////////

‘Lain lubuk lain ikannya,’ pribahasa ini sangat sesuai untuk menggambarkan keragaman budaya, gaya hidup serta pola pikir masyarakat Indonesia. Tiap daerah di Bumi Pertiwi tercinta ini memiliki adat-istiadat, tradisi, khazanah dan keunikan sendiri-sendiri.  Berbagai keunikan itu semakin semakin memperkaya entitas Indonesia sebagai bangsa yang Bhineka Tunggal Ika. Salah satu  kekayaan itu adalah gaya hidup masyarakat Papua.

Perlunya pemahaman akan budaya lokal ini dapat mengurangi atau meredam gesekan atau konflik yang mungkin muncul akibat perbedaan yang ada. Cara orang Papua memperlakukan hewan ternak mereka, yakni babi adalah sebuah keunikan.Mungkin  bagi budaya lain, babi tak lebih dari sekedar hewan ternak biasa, namun di Papua, babi memiliki nilai dan fungsi dalam budaya mereka.  Begitu pentingnya fungsi babi itu membuat hewan yang satu ini berada di atas hewan ternak lainnya.

Peran Babi dalam Adat Papua, Mas Kawin Hingga Tabrak Babi

Beternak Babi di Papua Menurut Antropolog

Menurut Antropolog dan Kepala Unit Pelaksana Teknis Museum Loka Budaya, Universitas Cenderawasih, F.Sokoy, S.Sos,M.Sos di Jayapura, beternak babi dalam perspektif budaya  dikenal dengan istilah kebudayaan memelihara babi.  “Budaya Papua adalah presentasi dari simbolisasi kemampuan sosial ekonomi, juga kepemimpinan,” ujarnya.

Sebagai simbol sosial ekonomi, lanjut Sokoy, babi mempunyai nilai tukar yang tinggi dan sangat berharga dibandingkan hewan lain. “Berbagai ritual  yang sering digelar masyarakat Papua baik yang mendiami daerah  pesisir, daratan maupun pedalaman pegunungan, babi harus selalu ada sebagai hidangan utama selain sayur mayur dan umbi-umbian,” paparnya.

Babi sebagai Mas Kawin

Selain dalam pesta adat, babi juga dipergunakan untuk membayar mas kawin, membayar hutang dan denda sebagai bentuk sanksi atas suatu perkara.  Upacara kematian dan juga merayakan panen kebun yang melimpah tak pernah dari kehadiran aneka olahan dari daging babi. Sementara dalam fungsi politik,  babi dapat dipandang sebagai simbol kepemimpinan. Semakin banyak seseorang atau kepala suku memiliki babi, maka semakin tinggi derajatnya di mata rakyatnya.

Babi sebagai Mas Kawin

Sebagai mas kawin babi adalah ukuran dari kecantikan seorang gadis di Papua. Semakin cantik gadis yang hendak dipinang seorang pria, maka semakin tinggi pula jumlah babi yang diminta sebagai mas kawinnnya. “Cara ini efektif untuk menolak pinangan seorang pria terhadap wanita incarannya. Gadis-gadis pendatang dari luar Papua bisa sudah mengerti, dan melakukan strategi halus ini untuk menolak pinangan jejaka lokal,” jelas Sokoy.

Babi sebagai alat pembayaran denda

Sedangkan fungsi babi sebagai pembayaran atau denda dapat dilakukan bila terjadi  masalah dalam keluarga. Seperti misalnya terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Pihak korban, biasanya para wanita bisa menuntut pelakunya dengan melaporkan pada keluarganya. Dalam musyawarah keluarga besar istri, pimpinan keluarga akan melancarkan gugatan pada keluarga suami. Masalah ini hanya bisa selesai jika pihak suami bersedia membayar sejumlah babi seperti yang dituntut oleh keluarga istri. “Mengenai jumlah sangat bervariasi. Namun tuntutan jumlah babi itu bukan harga mati. Dengan berbagai negosiasi yang a lot, pihak keluarga suami akan melakukan penawaran. Kesepakatan akan terbentuk bila kedua belah pihak merasa telah menemukan jalan tengah untuk jumlah babi sebagai pembayaran denda tersebut,” urai Antropolog ini.

Ganti Rugi Tabrak Babi

Yang perlu diperhatikan dan wajib diketahui terutama oleh pendatang di Papua adalah berhati-hati saat mengendarai kendaraan bermotor di Papua. Akan sangat merepotkan   jika tidak berhati-hati hingga menabrak babi betina. Bahkan ada gurauan di dikalangan pendatang di Papua, Lebih baik Anda menabrak nenek-nenek, ketimbang menabrak babi di Papua.

tabrak babi

Tentu saja itu semua gurauan saja. Tapi urusan akan jadi ruyam jika kita benar-benar menabrak babi betina  di Papua.  Sebab denda yang harus dibayar ketika menabrak babi memang benar-benar tak masuk akal. Orang Papua akan meminta ganti rugi antara belasan hingga puluhan juta Rupiah.  Dasar perhitungan ganti rugi babi yang mati itu ternyata diperkalian dari jumlah puting susu babi yang jadi korban.

Menghitung Ganti Rugi Tabrak Babi

Perhitungan dasar sebagai berikut:  Satu buah puting susu biasanya akan dihargai antara 1-2 juta. Satu juta jika babinya berukuran kecil hingga sedang. Sementara jika babinya cukup besar, maka pemilik akan meminta ganti rugi hingga 2 juta Rupiah. Padahal seekor babi betina rata-rata memiliki puting susu hingga 12 buah. Itu artinya, siapkan uang antara 12 hingga 24 juta Rupiah.

Pertanyaannya mengapa harus menghitung puting sebagai Kenapa harus berdasarkan putingnya? ”Bagi warga Papua, babi betina sangat penting dalam pengembangbiakan babi. Anak-anak babi akan menyusu di puting induknya, sehingga harus dijaga dengan baik. Jika babi betina mati, otomatis ia takkan dapat melahirkan anak lagi. Dan si empunya takkan mendapatkan babi. Itulah sebabnya, mengapa  babi betina sangat berharga di sini,” tukas Sokoy. IC/VI/AND/14

Komentar Untuk Peran Babi dalam Adat Papua, Mas Kawin Hingga Tabrak Babi