• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Mistis / Mitos
  • Post last modified:27 Januari 2022
  • Reading time:4 mins read

Suanggi menjadi momok bagi masyarakat Sabu. Mitosnya untuk kesempurnaan ilmu hitam, pelaku suanggi harus memakan bagian tertentu dari mayat serta menumbalkan bayi-bayi yang baru dilahirkan.

***********<>***********

Dari keyakinan nenek moyang inilah tumbuh dan berkembang beberapa ritus budaya hingga tradisi yang kental dengan nuasa ilmu hitam.  Ritual yang seperti ini biasanya   bukan untuk penghormatan dan pemujaan pada  Tuhan ataupun nenek moyang, tetapi justru lebih pada upaya penghambaan kepada setan.

Salah satu contoh ritus yang bisa dikatakan menyimpang itu adalah suanggi. Ritual yang menyertakan ilmu hitam sering dipakai untuk mencelakai bahkan membunuh secara gaib orang yang dianggap sebagai musuh. Kematian akibat suanggi sangat mengenaskan. Beberapa bagian tubuh korban kerap kali hilang, konon karena dimangsa dukun suanggi.

Begitu hebatnya dampak suanggi ini karena ritualnya juga sangat berat. Pemilik ilmu ini bisa berubah wujud menjadi monster yang menyeramkan dan dapat hidup dan bergentanyangan hanya dengan kepala dan organ dalamnya saja. Untuk menyempurnakan ilmu, penganut suanggi ini dituntut untuk terus menumbalkan bayi-bayi yang baru dilahirkan untuk santapan. Jika syarat ini terus dapat dipenuhi, kemampuannya akan terus meningkat dan tak terkalahkan. 

Untuk mengamankan ibu dan bayi yang baru dilahirkan dari ancaman suanggi, masayarakat Sabu punya cara unik yakni  melakukan tradisi mete atau berjaga-jaga sepenjang malam.  Selain mete, ada juga beberapa ramuan herbal yang juga bisa mengusir suanggi. Tapi. Bagi suanggi  kelas atas semua tradisi dan penagkal itu tidak ada artinya, sebab kemampuan mereka sudah setara dengan setan. 

Begitu tingginya ilmu dari para pelaku suanggi memang menjadi momok tersendiri bagi masyarakat Sabu. Pernah ada beberapa kejadian yang melaporkan jika korban  suanggi akan selalu kehilangan organ dalam tubuhnya, karena menjadi santapan mahluk setan ini. Dan untuk menghilangkan jejak, biasanya suanggi akan mengganti organ dalam si korban dengan dedaunan kering. Dan masyarakat Sabu juga sudah maklum jika ada jasad yang tak utuh bisa dipastikan jika mayat tersebut adalah korban suanggi.  

Meski terlihat seperti tak terkalahkan, bukan berarti tak bisa kalahkan.  Justru saat merubah diri, pelaku suanggi menjadi tak berdaya. Jasad tubuh manusia menjadi sangat rapuh. Hal ini karena  dalam menjalankan aksinya, para pelaku suanggi memang selalu mengambil posisi tidur. Hal itu dimaksudkan untuk memudahkan arwahnya kembali usai menjalankan aksinya. Selain itu juga agar menghindarkan kecurigaan dari orang lain, karena menyangka bahwa pelaku suanggi sedang tertidur.

Dengan mengubah sedikit saja posisi tubuh dari posisi semula, suanggi akan kebingungan saat akan kembali memasuki tubuhnya. Dan hal ini bisa dimanfaatkan untuk mengungkap identitas si pelaku. Sebab dalam kondisi yang seperti itu, suanggi tidak akan mampu bertahan lama. Saat menjelang pagi, dia harus segera memasuki tubuhnya kembali atau kalau tidak akan tewas terbakar matahari.

Karena terdesak, biasanya suanggi itu akan mencoba memasuki tubuh orang lain agar selamat. Orang-orang yang dipilih biasanya wanita yang tengah haid. Karena seorang perempuan yang sedang haid adalah kondisi terlemah untuk  dirasuki oleh suanggi. Akibatnya wanita itu  akan mengalami kesurupan. Dia akan ngoceh tidak karuan, dan dnegan sedikit trik tertentu, seseorang bisa mengorek banyak keterangan terkait siapa diri suanggi itu sebenarnya. Terbongkarnya identitas dari suanggi akan menjadi hukuman tersendiri bagi si pelaku. Sebab biasanya dalam proses pengembaliannya, akan disaksikan banyak orang. Dan hal itu tentu akan membuatnya merasa malu, terasing dan akhirnya terusir dari lingkungannya. Tamat/IC/VI/AND/04

Komentar Untuk Suanggi, Mitos Ritual Ilmu Hitam Masyarakat Sabu NTT