• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:News
  • Post last modified:14 September 2022
  • Reading time:4 mins read

Mitos perempuan bahu laweyan  akan ‘membunuh’ pria  untuk lepas dari kutukan yang melekat pada dirinya.

Ada mitos menarik yang sampai saat ini mash sangat dipercaya oleh sebagai masyarakat Jawa. Mitos tersebut adalah kisah tentang wanita pemilik bahu laweyan. Para wanita bahulaweyan ini bukan wanita biasa, mereka ini memiliki kekuatan financial yang kuat di masyarakat. Hanya saja meski kaya, mereka ini umumnya hidup menjanda.

Kisah ini perna sangat popular di Surakarta. Sebuat saja nama wanita itu adalah Mawar. Seorang janda muda yang ditinggal mati oleh suaminya. Yang menarik adalah, di usianya yang baru 30 tahunan, perempuan cantik ini sudah menyandang predikat janda sebanyak empat kali.

Artinya Mawar sudah  menikah sebanyak empat kali namun mengalami perceraian. Uniknya semua perceraian yang dialami Mawar adalah karena ke empat suaminya meninggal dunia.

 

Agaknya kisah tak lazim inilah yang mengilhmai masyarakat menyebut  Mawar adalah pemilik bahu laweyan.  Yang mana akan membuat laki-laki manapun yang menikahinya pasti akan mati.

 

Dalam kepercayaan Masyarakat Jawa, sosok wanita bahu laweyan memang bukan sosok yang sembarangan. Karenannya seorang pria dianjurkan untuk berpikir masak-masak sebelum memutuskan menikah atau hidup bersama dengan perempuan bahu laweyan. Tentu saja hal ini  terkait dengan nyawa atau keselamatan jiwa mempelai lelaki.

 

Katuranggan

 

Secara kajian historis, bahu laweyan   adalah salah satu bentuk katuranggan atau cirri khas  yang melekat pada diri wanita. Meski terkesan bias gender, ilmu tentang katuranggan ini memang sengaja diciptakan oleh para pendahulu untuk mengkondisikan agar seorang pria selalu berhati-hati dan memperhatikan bibit, bobot dan bebet sebelum memilih istri. Dan menurut ilmu katuranggan  bahu laweyan adalah satu jenis ciri khas wanita yang dihindari. Dihindari karena tipe ini dapat  membahayakan laki-laki yang  mengawininya.

 

Disampaikan oleh GPH Dipokusumo, budayawan dari Keraton Surakarta. Ilmu katuranggan dapat menjadi tuntunan agar  seorang laki-laki tidak akan sembarangan dalam memilih calon istri. Karena pernikahan yang akan dijalaninya adalah bagian dari proses perjalanan hidup yang tidak bisa dibuat main-main.

 

Sementara untuk bahu laweyan sendiri, Dipokusumo memang tidak secara spesifik  memastikan bagaimana ciri fisik yang melekat pada perempuan yang memilikinya.  Belum ada keterangan yang pasti yang menjelaskan tentang sosok perempuan bahu laweyan. Cerita yang berkembang di masyarakat umumnya hanya sebatas cerita atau kisah tutur yang berkembang dari  mulut ke mulut dan diyakini sebagai sebuah kebenaran. Meski belum pernah ada bukti empiris.

 

“Pembuktian terhadap sosok bahu laweyan tentu saja sangat sulit. Celakanya pembuktian dari klaim bahu laweyan ini harus dengan  menjalani hidup bersamanya atau mengawininya. Dan meski orang-orang tua kita dulu telah membeberkan beberapa cirri fisik tertentu terkait bahu laweyan, namun hal itu belum bisa seratus persen disebut sebagai ciri bahu laweyan. Karena sesungguhnya bahu laweyan itu lebih terlihat dari kejadian yang muncul setelah seseorang menjalani hidup bersama perempuan yang dianggap bahu laweyan,” jelas Dipokusumo.

 

kkepercayaan masyarakat Jawa menyebutkan, penggambaran bahu laweyan  sebagai perempuan dengan ciri khusus berupa toh atau tompel atau tahi lalat besar yang ada di bahu kirinya. Ada juga yang menyebut bahwa perempuan bahu laweyan adalah perempuan yang memiliki toh tepat di atas kemaluannya. Lalu ciri yang lain menurut Dipokusumo, adalah adanya lubang tepat di punggungnya. Lubang ini sangat mirip dengan lesung pipit di pipi. Lesung di punggung ini akan  menjadi tanda langka yang tidak akan dimiliki oleh wanita-wanita kebayakan.  Dan ada pula yang menyebut perempuan ini memiliki bahu melengkung seperti busur panah.  Bersambung/IC/XI/AND/03

 

Komentar Untuk Bahu Laweyan, Misteri Istri Pengundang Sial (1)