• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:News
  • Post last modified:5 Juli 2022
  • Reading time:7 mins read

 

Dikisahkan sebelum mendapatkan keberhasilan, Arjuna dicobai oleh berbagai godaan. Namun pada akhirnya, Ia sukses mewujudkan impiannya lewat kemampuannya. Jika Anda penggemar olah laku spiritual atau meditasi, maka Goa Selomangleng ini layak untuk dicoba sebagai tempat meditasi.

Nama Selomangleng berasal dari kata selo yang artinya batu dan mangleng yang artinya miring. Terjemahan secara bebas,  Goa Selomangleng dapat diartikan sebagai goa yang berada di dinding batu yang miring.

Tapi sebelum melangkah lebih jauh, jangan salah duga dengan goa Selomangleng yang ada di Kabupaten Kediri. Meski namanya sama, namun Goa Selomangleng yang berada di Tulungagung memiliki keunikan tersendiri.   Kompleks Goa Selomangleng yang menempati areal kehutanan di lingkungan BKPH Kalidawir, atau tepatnya di Dusun Sanggrahan Kidul, Desa Sanggrahan, Tulungagung.

“Sekarang  jalan menuju goa sudah bagus, jalan masuk yang menurun dari jalan desa,” jelas Arif juru pelihara goa.   Arif, mengaku baru sepuluh tahun memegang mandat sebagai juru pelihara (jupel). Bagi Arif   tugas sebagai jupel adalah tanggung jawab besar. Bersama jupel perjalanan jadi lebih menyenangkan.

Banyak cerita yang dibagi   jupel, mulai sejarah, kondisi terkini Goa hingga kisah-kisah mistis yang melingkupinya. Berbatasan dengan kebun milik penduduk, kompleks ini dapat dibedakan atas dua bagian, yakni bagian yang sekarang agak datar yang berada di bagian bawah, serta bagian yang terjal di bagian atas. Di bagian pertama itulah terdapat dua buah goa, sedangkan sebuah candi terdapat di bagian kedua.

Pahatan Arjunawiwaha

Situs ini peninggalan zaman klasik kerajaan Jawa. Memang banyak pendapat. Menurut penelitian BP3, ada kesamaan relief yang terdapat di Goa Selomangleng dengan yang dijumpai di Petirtaan Jalatunda. Arkeolog  A J Bernet Kempers menduga  situs ini  dibuat dan digunakan pada akhir abad X. Sebaliknya, berdasarkan cara pembuatan dan penataan rambut tokoh-tokohnya, Satyawati Suleiman, berpendapat bahwa goa tersebut berasal dari masa awal Majapahit,” jelas Arif dengan fasih.

Menurut keterangan Arif, Goa Selomangleng berada di  tebing Gunung Walikukun. Dibuat dengan memahat sebuah batu besar sehingga terbentuk ceruk horizontal.  Relief yang dipahatkan mengambil cerita bagian dari Arjunawiwaha, khususnya pada episode penggodaan bidadari terhadap Arjuna yang sedang menjalankan tapa.

“Pada penggambaran relief  terlihat jelas bagaimana orang-orang zaman itu begitu dekat dengan   wiracarita gubahan para pujangga sejak zaman Kerajaan Kediri. Dan bagaimana kedekatan terhadap sosok adikodrati lewat laku spiritual yang dilakoni. Disinilah inti dari jalan cerita relief,” terang lelaki ramah ini.

Ketiga kekunoan tersebut merupakan hasil pengerjaan pada bongkahan batu besar, memenuhi hampir seluruh sisa bagian atas batu. Goa pertama berada di bagian tanah yang relatif datar, merupakan hasil pahatan   sebuah bongkah batu besar atau  monolit   dengan bentuk mulut persegi empat sebanyak dua buah. Gua pertama dihiasi dengan relief, sedangkan goa kedua bersih dari  relief.

Bongkahan batu bergoa tersebut meliputi areal seluas 29,5 m x 26 m. Ukuran bagian dalam goa pertama,  panjang 360 cm, lebar 175 cm dengan kedalaman  ceruk 380 cm. Mulut goa menghadap ke arah arah barat. Relief dipahatkan pada panel di dinding sisi timur dan utara. Hiasan itu menggambarkan bagian dari cerita Arjunawiwaha, yakni ketika Indra memerintahkan bidadarinya untuk menggoda Arjuna di Gunung Indrakila. Di gambarkan pula adegan ketika bidadari menuruni awan dari kayangan ke bumi.

Gua kedua terletak di bagian selatan dari goa pertama, pada bongkah yang sama, tetapi pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan goa pertama. Goa yang di bagian selatan ini menghadap ke selatan dan tidak memiliki hiasan apapun di dalamnya. Ukurannya panjang 360 cm dan lebar 200 cm.

Beberapa meter di sebelah timur goa tersebut, pada tempat yang lebih tinggi terdapat bongkahan batu yang dipahatkan kaki dan batur candi berdenah persegi empat dengan ukuran panjang 490 cm dan lebar 475 cm. Dinding batur candi tersebut dihiasi palang Yunani berbingkai bujursangkar.

Di dahi dari goa pertama terdapat pahatan kalamakara dalam ukuran besar. Dengan arah hadap barat, sementara di sisi pipi kiri doa terdapat tangga berundak yang juga dipahat pada bongkahan batu. Sayang, mungkin karena termakan usia dan pelapukan, pahatan kalamakara itu terlihat sudah memudah. Namun penggambaran, mata, hidung, taring serta detail rambut keriting dari kala itu masih tersisa dan bisa dilihat sampai sekarang.

Di  dinding ceruk goa utama terpahat relief Arjunawiwaha. Lebih tepatnya adegan Mintaraga. Relief ini mengisahkan sang Arjuna yang bertapa untuk memohon kekuatan jiwa raga dan batin serta memohon senjata sakti dari para dewa. Saat bertapa Arjuna mendapat gangguan dari bidadari-bidadari utusan Bathara Indra. Arjuna bergeming. Godaan tak mampu mematahkan tapanya sehingga dia akhirnya memperoleh senjata berupa Gendewa.

Laku Tapa Brata

Karena itulah,   sampai sekarang banyak orang masih percaya dan yakin bahwa lokasi Goa Selomangleng ini adalah lokasi yang tepat untuk bermeditasi. Dan pada malam-malam dan hari-hari tertentu banyak para pelaku tapa brata dan spiritualis yang meluangkan waktunya untuk bermeditasi disini. “Soal hari itu tergantung masing-masing pribadi. Tapi yang pada umumnya, pada malam Jumat atau pada hari khusus sesuai hitungan penanggalan Jawa. Tapi ada juga orang-orang yang tujuan tertentu seperti ingin menang pemilihan kepala desa atau tingkat yang lebih tinggi menyempatkan untuk bermeditasi disini,” papar bapak dua anak ini.

Jika merujuk pahatan relief, sangat masuk akal jika banyak orang dengan tujuan tertentu melakukan tapa brata di goa ini. Sebab penggambaran cerita Arjuna Wiwaha tersebut mengandung unsur upaya dari menggapai   harapan lewat kekuatan batin memang salah satu kunci sukses menggapai asa.

Ada pengalaman berbeda yang dicerita, Marto,  pemilik kebun yang berada tak jauh dari lokasi goa ini mengaku pernah menjadi penunjuk jalan dari seorang spiritualis yang melakukan tapa brata. “Kejadiannya kira-kira dua tahun yang lalu. Selama seharian  semalam, pengunjung yang mengaku berasal dari Desa Panggung, Tulungagung berdemitasi di goa. Besoknya ketika saya tengok dia bercerita tentang hebatnya kekuatan gaib yang terkandung di areal goa. Dia juga menceritakan tentang penyimpanan harta benda milik kerajaan yang disembunyikan di sekitar lokasi ini. Sayangnya, lelaki itu enggan menjelaskan secara rinci dimana, harta karun itu disembunyikan,” ungkap Marto dalam Bahasa Jawa.

Apapun kisah atau mitos yang melingkupi, Goa Selomangleng adalah situs cagar budaya peninggalan adiluhung nenek moyang kita. Sudah sepantasnya jika generasi penerus merawat dan menjaga kelestariannya dengan tidak hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan sesaat dengan merusak situs tanpa sempat kita mengerti akan esensi ilmu luhur warisan budaya. IC/VII/AND/27

 

Ingin tahu info-info tentang sejarah Indonesia, indonesia culture dan beragam budaya yang ada di negara ini. ayo kunjungi saja www.indonesiancultures.com disini kamu akan belajar banyak tentang budaya, adat yang pernah ataupun terjadi di Indonesia

Komentar Untuk Sejarah, Arjuna, indonesia culture, indonesian culture, budaya indonesia, adat indonesia