• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Tradisi
  • Post last modified:12 April 2022
  • Reading time:5 mins read

Orang-orang berkumpul di Padepokan Ki Tunggul Selo malam itu. Sejumlah sesaji tampak tengah disiapkan. Bau asap hio memenuhi rumah yang terletak di Kampung Hudosari, Kecamatan Selomerto, Wonosobo, Jawa Tengah. Malam itu di tempat tersebut akan digelar acara; Tanggap Warso.

Tanggap Warso merupakan pagelaran seni dengan iring-iringan musik tradisional yang dilaksanakan tepat pada malam tahun baru Jawa. Meski merupakan ‘pagelaran seni’, acara ini tak semata digelar demi hiburan. Tanggap Warso adalah sebuah ritual mistis. Prosesnya didahului dengan doa dan pemberian sesaji serasa menancapkan hio di setiap pojok arena. Tujuannya: supaya acara itu terhindar dari gangguan arwah jahat atau orang yang berniat jahil.

Ruwatan Dataran Tinggi Dieng

Usai pembacaan doa dan penghaturan sesaji, Tanggap Warso akan dibuka dengan pertunjukkan kuda lumping. Murid-murid Ki Tunggul memperlihatkan ilmu kanuragan yang mereka kuasai dengan atraksi pencak silat yang dilengkapi senjata tajam. Semua yang tampil memiliki ilmu kekebalan sehingga senjata tajam menjadi tak mempan di tubuh mereka.

Lima murid Ki Tunggul melumuri tubuh mereka dengan minyak mendidih tanpa merasakan sakit sama sekali. Konon, karena raga mereka telah dikuasai kekuatan supranatural. Yang paling menegangkan dari rangkaian atraksi malam itu adalah atraksi menangkap peluru. Peluru yang ditembakkan dengan kecepatan ratusan meter per detik itu harus ditangkap. Benar-benar menegangkan.

Komunikasi Roh Dalam Ruwatan Dataran Tinggi Dieng

Unjuk kanuragan ditutup dengan atraksi jaelangkung. Kali ini, Ki Tunggul Selo yang turun gelanggang. Ia mengundang roh untuk masuk ke tubuh seorang ketua adat setempat. Undangan Ki Tunggul disambut. Sang ketua adat tiba-tiba kehilangan kesadarannya. Itu pertanda roh halus sudah menguasai tubuhnya.

Selama merasuk di tubuh sang ketua adat, roh halus itu sempat meramal tentang datangnya bencana dan mengingatkan manusia di sana agar kembali ke jalan yang benar. Setelah itu, ia pergi. Acara kemudian ditutup setelah Ki Tunggul membagi-bagikan sejumlah benda pusaka kepada beberapa orang.

Ruwatan Dataran Tinggi Dieng

Tanggap Warso rutin digelar hampir tiap tahun di rumah – sekaligus padepokan – Ki Tunggul Selo. Ki Tunggul merupakan paranormal di Kabupaten Wonosobo yang dipercaya memiliki segudang kekuatan supranatural.Ia disebut-sebut bisa meramal masa depan, mengundang dan berkomunikasi dengan roh, mendinginkan air kawah yang mendidih, dan beberapa kelebihan lainnya. Sejak 1999, Ki Tunggul Selo rutin memimpin ruwatan yang dilaksanakan di Kawah Candradimuka di Dataran Tinggi Dieng tiap tahun baru Jawa. Ruwatan yang bertujuan untuk membuang sial dan menjauhkan diri dari berbagai bahaya itu dilaksanakan di Kawah Candradimuka pada keesokan harinya setelah Tanggap Warso rampung.

Ritual Ruwatan Dataran Tinggi Dieng

Pagi hari setelah Tanggap Warso, rumah Ki Tunggul Selo akan kembali ramai. Para peserta ruwatan mulai berdatangan. Mereka bukan hanya berasal dari Wonosobo atau sekitarnya, tetapi juga Semarang, Surabaya, Madura, Banten, bahkan Jakarta. Latar belakang social para peziarah itu juga beragam. Alasan mengikuti ruwatan pun berbeda-beda: ada yang merasa sial karena haris lahir yang ‘tak baik’, ada yang ingin menggapai keinginan tertentu, atau karena sedang menghadapi masalah. Tiga hari sebelum mengikuti ruwatan, para peserta diminta untuk berpuasa, membaca sejumlah doa dan dzikir khusus, serta menjauhi hal-hal jelek lainnya.

Salah satu prianti terpenting dari ruwatan itu adalah sesaji yang bahan utamanya nasi megono: nasi yang dikukus dengan sayur mayor seperti kacang panjang, kol, dan kubis. Nasi ini dibentuk tumpeng dengan ingkung ayam, sayuran segar, berbagai jenis buah, serta jajan pasar.

Nasi megono merupakan perlambang bahwa manusia harus selalu ingat pada Yang Maha Kuasa . Nasi itu, bersama dengan sesaji lain seperti telur ayam dan penganan ketan, akan dihidangkan kepada para peserta ruwatan sebelum mereka mengikuti ruwatan. Sambil menikmati panganan itu, para peserta ruwatan diberitahu sejumlah penjelasan mengenai tata cara ruwatan antara lain larangan meludah, berbicara kotor, ataupun berpikiran jelek. Setelah itu, doapun dipanjatkan, menandai rombongan ruwatan akan segera berangkat.

Misteri Kawah Dataran Tinggi Dieng

Perjalanan ke lokasi ruwatan yang berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut dan berjarak skeitar 40 kilometer dari rumah Ki Tunggul pun dimulai. Untuk sampai ke sana, para peserta ruwatan harus menempuh perjalanan selama 2 jam dengan kendaraan roda empat atau dua melalui jalanan terjal dan berbatu yang membuat perjalanan menjadi sangat lambat.

Kawah Candradimuka sendiri merupakan salah stau dari 22 kawah di Dataran Tinggi Dieng. Dalam kisah pewayangan, kawah ini merupakan tempat di mana Gatotkaca dilatih oleh para dewa untuk mendapatkan berbagai ajian pamungkas. Sesampai di lokasi, para peserta diharuskan mengenakan kain putih. Peserta pria mengenakan kain putih laiknya baju ihram, sementara para wanita mengenakan mukena dan sarung untuk shalat. Pakaian ini adalah simbolisasi dari tujuan agar tercapai jiwa dan hati yang bersih.

Setelah semua peserta siap, Ki Tunggul Selo akan turun terlebih dulu ke Kawan Candradimuka. Di bibir kawah itu, ia membacakan doa-doa supaya air kawah yang panasnya mencapai 90 derajat celsiu itu bisa berangsur-angsur menkadi lebih dingin sehingga tidak membahayakan bagi para peserta. Setelah doa-doa selesai dirapalkan dan air kawah telah menjadi hangat, ruwatan pun dimulai.

Satu per satu peserta dipanggil turun ke kawah. Dalam rombongan yang terdiri dari empat hingga lima orang, mereka menuju bibir kawah. Ki Tunggul Selo kemudian membacakan doa dan menggunting sedikit rambut mereka. Tujuan dari memotong rambut atau tigas sukerto itu adalah untuk membuang kotoran yang ada dalam tubuh. Kemudian, Ki Tunggul menempelkan tangan di kepala peserta untuk membuka aura – dalam ritual ruwatan prosesi ini disebut sebagai ‘pembuka pamoring raga’. Lalu satu demi satu peserta diguyur dengan air kawah sebanyak tujuh kali. Dalam baasa Jawa, tujuh tersebut disebut dengan ‘pitu’ yang dimaknai pitulungan atau pertolongan. Jadi, ruwatan itu memaksudkan sebagai upaya manusia meminta pertolongan pada Yang Maha Kuasa. IC/VII/AND/10

Komentar Untuk Ruwatan Dataran Tinggi Dieng Via Komunikasi Roh Leluhur