• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Local Wisdom
  • Post last modified:18 April 2022
  • Reading time:3 mins read

Satu hal yang menjadi karakter kuat dari kebudayaan Mentawai adalah penghormatan masyarakatnya terhadap alam. Mereka sangat menjaga dan hidup berkeseimbangan dengan alam.

Sejak lama Pulau Mentawai terkenal karena  pemandangan alamnya yang menawan. Namun lebih dari itu, alam itu talah melahirka, budaya dan  tradisi yang masih terjaga hingga zaman modern ini. Inilah yang  menjadikan Kepulauan Mentawai memiliki karakter budaya  yang cukup kuat.

Secara historis, orang Mentawai ditengarai sebagai gelombang pertama penduduk kepulauan Nusantara  yang datang dari Asia daratan. Mereka lantas terisolasi di Kepulauan Mentawai, ketika kepulauan itu berpisah dari daratan Asia dan Pulau Sumatera akibat mencairnya es dan naikknya permukaan air laut   pada Zaman Pleistocene. Kejadian itu  sekira satu juta sampai 10 ribu tahun lalu.

Akibat naiknya air laut, pemisahan kepulauan Mentawai dari Pulau Sumatera tak terhindarkan. Pemisahan inilah yang menyebabkan flora dan fauna Mentawai dapat dibilang memiliki perbedaan  dengan Pulau Sumatera. Akan halnya dengan kebudayaan yang berkembang setelah. Masyarakat Mentawai sangat berbeda dengan budaya di Sumatra.

Beda Budaya

Kepulauan Mentawai yang letaknya berhadapan dengan Samudera Hindia memiliki empat pulau besar yang seluruhnya berpenghuni, yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Dari keempat pulau itu, hanya di Siberut kebudayaan tradisional Mentawai masih bertahan.

Melakukan perjalanan ke Pulau Siberut untuk melihat budaya tradisional orang Mentawai bisa dimulai dari Padang. Untuk menuju ke sana, jalur satu-satunya  yang tersedia hanya lewat laut dengan kapal regular setiap dua kali seminggu rute Padang – Muara Siberut.

Tantangan berat akan dijumpai jika pergi ke sana di saat musim ombak, sekitar April hingga November. Untuk penggemar selancar, waktu-waktu itu bisa jadi surga tapi untuk mereka yang tak biasa naik kapal laut, perjalanan di  bulan-bulan ini akan terasa amat berat. Kapal akan bergoyang lebih keras, bahkan bisa saja pelayaran terpaksa ditunda jika ombak terlalu besar dan disertai badai.

Bunga dan Daun-daun
Masyarakat tradisional Mentawai hidup secara sederhana di kampung-kampung di tengah hutan atau di hulu-hulu sungai dalam rumah adat yang dinamakan uma. Mereka memilih jauh di pedalaman karena ketersediaan pangan dan melimpahnya sumber hayati di Mentawai.

Satu hal yang menonjol dan menjadi karakter kuat dari kebudayaan Mentawai adalah penghormatan mereka terhadap alam. Mereka sangat menjaga keseimbangan kehidupan dengan alam.

Penjagaan keseimbangan dengan alam itu didasarkan kepada kepercayaan mereka terhadap kekuatan daun-daun atau yang terkenal dengan kepercayaan Arat Sabulungan. Tak heran jika dalam setiap upacara adat orang Mentawai selalu menggunakan bunga dan daun-daunan.

Dalam konsep Arat Sabulungan, alam dikuasai oleh roh-roh pelindung yang melindungi mereka dari berbagai macam bencana alam. Namun roh pulalah yang menghukum mereka jika melanggar pantangan atau berbuat kesalahan. Karena itu orang Mentawai dikenal sering melakukan upacara ritual untuk melindungi mereka dari bencana.

Berbagai upacara adat itu seperti  melepas sampan ke sungai, mendirikan uma, mengobati orang sakit, dan pengangkatan sikerei atau tabib yang punen atau pestanya berlangsung hingga tiga bulan. Semua ritual-ritual dan upacara adat di lakukan untuk memberikan ketenangan dan melobi roh-roh leluhur yang menguasai seluruh kehidupan di Mentawai.  IC/VII/AND/19

Komentar Untuk Balutan Mistis Keindahan Eksotisme Pulau Mentawai