• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Mitos
  • Post last modified:16 April 2022
  • Reading time:4 mins read

Inilah gaya voodoo Sumetera Barat. Ketika cinta ditolak, cukup meniup seruling maka penolak cinta akan dibuat tergila-gila. Meski langka namun ritual ini diam-diam masih dipraktekkan hingga sekarang.

Dua orang lelaki kerabat Rani berusaha sekuat tenaga menahan dengan memegangi tangan dan kaki gadis cantik ini. Ia meronta-ronta, menendang dan mencakar orang-orang yang ada disekitarnya. Dari mulut Rani terus meluncur kata ngelantur tak karuan.

“Rahardi, Rahardi dimana kamu, ini aku mengapa kamu pergi meninggalkan aku,” teriak Rani dengan pandangan kosong. Sedetik kemudian dara cantiknya terkulai lemas dan pingsan. “Sudah sejak sejam lalu  kondisinya seperti ini. Sebentar sadar sebentar hilang. Tenaganya habis terkuras. Jika dilepaskan, dia mau berlari seperti mengejar seseorang,” ujar Dedy seorang kerabat yang memegangi Rani.

sihir sirompak

Menurut Dedy, Rahardi, nama yang disebut-sebut Rani adalah seorang lelaki yang dulu pernah hendak melamarnya. Lelaki itu sederhana, tapi sudah punya pekerjaan tetap. “Ketika itu, Rani menolak dengan alasan masih ingin meneruskan kuliahnya. Tapi alasan sebenarnya karena Rani sebenarnya naksir lelaki lain,” jelas Dedy.

Semenjak menolak pinangan Rahardi itulah kondisi kejiwaan Rani mendadak terguncang. Dia lebih banyak terlihat linglung dan senang menyendiri. Beberapa kali ia sempat jatuh sakit karena pola makannya mulai tak teratur. “Aku mau nikah sama kamu.  Aku cinta kamu, ayo lamar aku lagi,” teriak Rani yang tiba-tiba siuman dari pingsan.

Melihat kondisi anaknya yang memprihantikan, Ramelan ayah Rani memutuskan meminta bantuan pada spiritualis didaerahnya. “Saya khawatir omongan Rani sudan merancu terus. Saya takut dia jadi gila beneran,” ujar Ramelan dengan wajah sedih.

Apa yang tengah dialami oleh Rani ini adalah akibat ilmu Sirompak. Sebuah ilmu santet dari daerah Sumatera Barat. Santet Sirompak ini terbilang istimewa, sebab   medium yang menghubungkan penyantet atau  pelaku  dengan orang yang disantet atau korban, hanya lewat   bunyi. Di daerah Taeh Barueh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, aktivitas dalam  ‘memengaruhi’ seseorang tidaklah menggunakan senjata tajam atau sejenisnya, namun dengan saluang sirompak, alat musik tiup dari bambu dengan lima lubang.

Nil Ikhwan, Budayawan Sumatera Barat lewat tulisannya Proses Magis Sirompak  pada 2003  menjelaskan bahwa alat musik ini menjadi medium bagi seorang laki-laki yang dipermalukan oleh wanita karena cintanya ditolak. “Laki-laki yang sakit hati itu kemudian mendatangi peniup saluang sirompak. Alat musik itu pun dibunyikan. Tak lama berselang, si gadis diyakini akan tergila-gila pada laki-laki yang awalnya ditolak. Bahkan, tak jarang, si gadis menjadi gila dalam arti sesungguhnya, tergantung pada kadar sakit hati yang diderita pihak laki-laki,” ungkap Nil.

sirompak
source : tribun

Namun Nil mengatakan jika aktivitas ritus rompak ini sudah jarang dan langka dilakukan terhitung sejak Islam mulai masuk ke  Sumatera Barat pada abad ke-14. Namun Basirompak merupakan budaya nagari Taeh Baruah yang disahkan masyarakatnya.

Nil Lantas menjabarkan jika Basirompak berasal dari kata dobrak, rampok, mengambil secara paksa. “Jadi dalam kajian budaya Basirompak ini adalah   memaksa batin seseorang sesuai dengan keinginan orang yang melakukannya, dengan bantuan kekuatan gaib. Dengan bantuan kekuatan gaib itu pula orang yang awal benci bisa jadi tergila-gila, demikian juga sebaliknya,” ulas Nil.

Sebenarnya Sirompak ini adalah suatu bentuk upacara ritual magis yang dilakukan oleh seorang pawang sirompak bukan hanya untuk tujuan cinta atau perjodohan. Namun seriring perkembangan zaman, ilmu rompak ini kemudian lebih populer dan selalu dihubung-hubungkan dengan masalah asmara. “Sudah terjadi perubahan atau tepatnya modifikasi dengan   tujuan untuk  menaklukkan hati seorang perempuan yang telah menghina seorang laki-laki,” kata lelaki berkacamata ini.

Namun seperti halnya santet, pelet dan sebagainya, aktivitas magis ini sekarang kurang disukai oleh masyarakat. Mereka berpendapat tindakan-tindakan magis ini melanggar noma agama, adat bahkan hukum. Terlebih  dampak yang ditimbulkan bisa sangat fatal.

Nil menjelaskan kegiatan basirompak ini dilaksanakan di tujuh tanjung yang terdapat di nagari Taeh Baruah. Sebelum melakukan upacara, pihak yang meminta penyelenggaraan upacara terlebih dahulu harus menyiapkan pambaokan atau  sesajian  berupa nasi kuniang, bareh rondang bungo pangia-pangia, kemenyan. “Tapi yang harus ada dan tak boleh ketingalan adalah   salah satu unsur yang ada pada diri perempuan yang dituju seperti rambut, kuku,  pakaian, foto, dan lain sebagainya. Benda-benda inilah yang memberikan hubungan magis ilmu dengan korban yang hendak disantet,” tegas Nil

Setelah semua perlengkapan telah tersedia,   pawang sirompak melaksanakan tugasnya. Masing-masing tanjung didatangi lalu tukang sirompak menyiapkan sesajian dan membakar kemenyan, kemudian melantunkan  dan  mendendangkan mantra-mantra dalam bahasa melayu kuno.  Hal yang sama dilakukan secara berturut-turut di  ke tujuh tanjung tersebut.

Keberadaan tukang sirompak pada saat itu menjadi tumpuan para pemuda yang ditolak cintanya, sebagai kelanjutan dari legenda si babau. Mereka diperkirakan masih melakukan aktivitas ritual magis basirompak secara legal sampai tahun 1950an. Bahkan tahun 2000an pun, praktik itu masih berjalan walau diselenggarakan secara sembunyi-sembunyi. IC/VII/AND/16

Komentar Untuk Sirompak Sihir Voodoo Ala Sumatera Barat