• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Legenda / Mitos
  • Post last modified:18 April 2022
  • Reading time:3 mins read

Legenda mengatakan bahwa tidak semua orang bisa menggunakan surik. Jika salah orang, pedang akan berbalik melawan orang tersebut. Hanya orang terpilih dengan ritual khusus yang mampu menyandang surik.

Dalam tujuh unsur pokok kebudayaan universal, senjata termasuk dalam sistem teknologi. Senjata tercipta dari seperangkat pengetahuan dan teknik mengolah bahan mentah menjadi sebuah alat atau benda melalui proses pengolahan tertentu sehingga berguna untuk memudahkan manusia mengatasi tantangan dari lingkungannya.

Pedang atau masyarakat lokal menyebut kelewang ialah alat senjata yang difungsikan untuk membela dan mempertahankan diri dari serangan musuh. Alat ini terbuat dari besi baja dan dikenal di seluruh pulau Timor maupun masyarakat suku-suku lainnya di daerah Nusa Tenggara Timur.

“Di Kabupaten Belu,ada dua jenis pedang atau kelewang tradisional berdasarkan model atau bentuknya yaitu, Surik Samara yang pada gagangnya dihiasai dengan bulu kuda, dengan panjang sekitar 1 meter atau lebih. Bentuk kedua adalah Surik Naruk, yakni pedang jenis biasa yang banyak dipakai masyarakat kebanyakan.Disamping kedua jenis kelewang ini dijumpai pula jenis pedang produksi kolonial Portugis atau Belanda. Taksiran umur pedang-pedang tersebut telah berusia250 tahun,” tegas Reno Halsamer.

Alat perang yang menyimpan kekuatan mistis, source : selasar

Mata Magis

 Menurut kolektor ratusan ribu benda sejarah ini,  Surik memiliki pisau bermata tunggal dengan punggung lurus. Bentuk pedang dibagian ujung sempit dan bagian pangkal lebih lebar. Gagangnya sebagian besar terbuat dari tanduk. Dengan bentuk unik yang disertai rumbai-rumbai dari ekor kuda atau kambing hingga terlihat gagah dan menakutkan. “Selain bulu, pada gagang surik juga ditambahkan ornamen berbentuk ukuran mata yang kadang terbuat dari mata uang kuno. Sepintas bentuk gagang ini menyerupai bentuk kepala manusia, ular hingga ayam. Pada ‘mata’ inilah letak kekuatan magis dari surik,” papar Reno.

Secara teknologi, surik ditempa dari besi baja. Api yang dipergunakan untuk menempa besi itupun tidakboleh diambil untuk api dapur ataupun didekati oleh yang tidak berkepentingan. “Ini yang membedakan, karena bila larangan tersebut dilanggar masyarakat Belu percaya akan terjadi malapetaka seperti sesak nafas. Gadis-gadis dan wanita hamil juga dilarang mendekat  tungku api. Bagi gadis dapat menjadi mandul karena panasnya api dari tungku, sementara bagi wanita hamil berbahaya bagi kandungan karena dapat menggugurkan janin,” papar pemilik 5 museum ini pada Indonesian Cultures.

Dari uraian-uraian Reno di atas jelas pedang surik mengandung makna religius. Surik Samara  jenis yang dikeramatkan. Biasanya disimpan di rumah kepala suku atau marga. Pada waktu-waktu tertentu jenis pedang surik ini dikeluarkan dari tempat penyimpanannya untuk diupacarakan.“Legenda mengatakan bahwa tidak semua orang bisa menggunakan surik ini. Jika salah orang, pedang akan berbalik melawan orang tersebut. Dengan mengetahui legenda tersebut, ada benarnya bahwa senjata ini tentunya tidak boleh dimainkan atau disalahgunakan. Bahkan, jika untuk keperluan perang, kepala suku akan meritualkan pilihan khusus atas siapa yang berhak dan pantas menyandang Surik Samara ini,” ulas pria ramah ini.IC/VII/AND/21

Komentar Untuk Membongkar Sisi Magis Surik Nusa Tenggara Timur