• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica
  • Post last modified:8 Februari 2023
  • Reading time:3 mins read

Menurut historiografi lokal, Raden Rahmat atau yang lebih dikenal dengan Sunan Ampel datang ke Nusantara bersama orang tua dan keluarganya. Sumber lain menyebutkan, sebelum ke Jawa, rombongan ini sempat singgah dan tinggal beberapa saat di Palembang. Dalam The Preaching of Islam, tulisan Menurut Thomas W. Arnold, Raden Rahmat  menjadi tamu Arya Damar selama dua bulan. Arya Damar sebenarnya sudah tertarik pada Islam, namun karena alasan politis ia menolak untuk menyatakan diri telah menjadi muslim. Namun menurut tutur masyarakat  setelah memeluk Islam, Arya Damar memakai nama Ario Abdillah.

Sunan Ampel tonggak penyebaran Islam di Nusantara, source : okezone

 

Kedatangannya datang ke Jawa dengan tujuan dakwah Islamiyah disertai saudaranya yang bernama Ali Murtadho dan kawannya bernama Abu Hurairah putra Raja Champa. Kedatangannya ini persis dengan waktu keruntuhan kerajaan Champa akibat serangan Sanggora. Rombongan ini mendarat dan menetap di  di Tuban. Setelah sang ayah wafat, Raden Rahmad berangkat ke kotaraja Majapahit untuk menemui bibinya yang menjadi istri dari raja Majapahit.

Diperkirakan  Raden Rahmat  datang ke Jawa sebelum 1446 Masehi, yakni pada tahun jatuhnya Champa akibat serbuan Vietnam. Dalam Serat Walisana disebutkan,  Raja Majapahit, Prabu Brawijaya,  mencegah Raden Rahmat kembali ke Champa karena Champa sudah rusak akibat kalah perang dengan Kerajaan Koci. Penempatan Raden Rahmat di Surabaya dan saudaranya di Gresik, tampaknya memiliki kaitan erat dengan suasana politik di Champa, sehingga dua saudara tersebut ditempatkan di Surabaya dan Gresik dan dinikahkan dengan perempuan setempat.

Babad Ngampeldenta menjelaskan  pengangkatan  Raden Rahmat sebagai imam di Surabaya dengan gelar sunan dan kedudukan wali di Ngampeldenta diputuskan dan dilakukan oleh Raja Majapahit. Dengan demikian, Raden Rahmat lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ngampel.

Sumber legenda Islam, menyebutkan proses Raden Rahmat diangkat menjadi imam Masjid Surabaya dimulai dari  pejabat Pecat Tandha di Terung yang bernama Arya Sena. Pemempatan Sunan Ampel di Surabaya, selain dilakukan secara resmi oleh Pecat Tandha di Terung. Perpindahan ini juga dikuti oleh keluarga-keluarga yang dipercayakan Kerajaan Majapahit untuk dipimpinnya.

Dalam perjalanan menuju Ampeldenta,  Raden Rahmat melewati beberapa daerah seperti Pari, Kriyan, Wonokromo, dan Kembang Kuning. Namun perjalanan itu demikian berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama karena beberapa daerah tersebut masih berupa hutan lebat, sungai dan kawasan rawa-rawa.

 

Suasana kampung Ampel pada 1890, source : klitv

 

Di daerah Kembang Kuning, Raden Rahmat bertemu dengan Ki Wiryo Saroyo yang dikenal sebagai Ki Bang Kuning yang kemudian menjadi pengikut Raden Rahmat.  Babad Tanah Jawi  mengisahkan ketika tinggal di kediaman Ki Bang Kuning, Raden Rahmat menikah dengan putri Ki Bang Kuning yang bernama Mas Karimah. Pernikahan ini melahirkan  dua orang putrid, Mas Murtosiyah dan Mas Murtosimah.  Selama tinggal di Kembang Kuning, Raden Rahmat terus melakukan syiar Islam dan  membangun masjid bagi pengikut dan   masyarakat sekitar.

Sementara menurut Serat Walisana, sebelum mengangkat Raden Rahmat di Ampeldenta,  Raja Majapahit menyerahkannya kepada Adipati Surabaya  bernama Arya Lembusura, yang beragama Islam. Arya Lembusura menempatkan Raden Santri Ali menjadi imam di Gresik dengan gelar Raja Pendhita Agung dengan nama Ali Murtala (Ali Murtadho). Setelah itu, Arya Lembusura menempatkan Raden Rahmat sebagai imam di Surabaya, berkediaman di Ampeldenta dengan gelar Sunan Ampeldenta. Dengan nama Pangeran Katib. IC/AND/XIII/09

 

Komentar Untuk Brawijaya Cegah Sunan Ampel Balik Ke Champa, Cikal Bakal Perkembangan Islam di Jawa