• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica
  • Post last modified:29 Juni 2022
  • Reading time:3 mins read

Cengkeh dan pala adalah komoditas yang memiliki nilai jual yang mahal dan dapat ditukar dengan beras, kain, dan lainnya, yang dapat dijual di Eropa dengan keuntungan yang sangat besar. Laporan perjalanan Marco Polo sudah membuka mata masyarakat Eropa untuk menemukan sumber kekayaan tersebut.

*************

Sejak dulu, rempah sudah dikenal sebagai substansi dari tumbuhan tropis yang memiliki rasa kuat dengan kekhasan aromatik. Rempah-rempah ini dapat diolah untuk memberikan aroma atau mengawetkan makanan hingga memberikan rasa khas pada hidangan.

Rempah diperoleh dari bagian kulit, akar, pucuk, bunga, getah, damar, termasuk sari bunga atau buah dari suatu tumbuhan. Rempah hanya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di daerah atau negara yang memiliki suhu cenderung hangat dengan curah hujan yang tinggi.

Marco Polo dalam tulisannya perjalanannya ke China, melaporkan tentang keberadaan rempah di Nusantara. Ia menulis bahwa di negeri ini memiliki komoditas yang berlimpah ruah, mulai dari lada, pala, spikenard, laos, kemukus, cengkih, dan segala jenis rempah serta obat-obatan.

Hanya orang kaya yang mampu membeli rempah untuk mencegah pandemi.

Ketika wabah Black Death tengah menyerang Eropa, jutaan nyawa melayang. Wabah ini demikian mengerikan. Para dokter-dokter ahli di Paris menyarankan semua orang untuk menghindari udara buruk yang ada di bagian Selatan. Dan untuk menangkal dan menghilangkan udara buruk tersebut para dokter menyarankan untuk melakukan pengasapan dengan membakar rempah-rempah atau tanaman aromatik di rumah-rumah penduduk.

Selain pengasapan para dokter juga menyarankan untuk tidak makan dan minum secara berlebihan. Memasak daging dengan menggunakan rempah dalam sup kasia, kayu manis, anggur, cuka, dan jahe, serta menambahkan cengkih saat membuat saus. Tentu saja pada zaman itu, saran ini tak mudah untuk dilakukan, karena ketersediaan rempah sangatlah langka.

Ilustrasi rute perjalanan Marco polo mengunjungi wilayah baru.

Sementara Marco Polo saat itu belum mengetahui jika titik pengumpulan dan distribusi rempah-rempah tersebut hanya terdapat di Jawa. Tapi Marco Polo sudah mengetahui kabar angin atau lebih tepatnya mitos tentang beberapa jenis rempah-rempah yang mampu membuat daging awet dan menutupi bau amis daging.

Cengkeh (Syzigium aromaticum, atau Eugenia aromatica, atau kuntze) sendiri sebenarnya berasal dari lima pulau kecil yang terdapat di bagian utara Maluku, yaitu Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Sementara buah pala (Myristica fragrace) aslinya berasal dari Kepulauan Banda yang terletak di bagian tenggara Pulau Ambon, serta di Halmahera Timur, termasuk Maba, Patani, dan Weda. IC/and

Dari China Marco Polo pulang menggunakan kapal hingga ada kesempatan untuk mampir ke Nusantara dan melihat surga rempah dunia.

Komoditas tersebut di kapalkan untuk dijual di Jawa dan Sumatra. Yang disana sudah banyak pedagang-pedagang Nusantara maupun manca negara. Cengkeh dan pala merupakan beberapa komoditas yang memiliki nilai jual yang mahal dan dapat ditukar dengan beras, kain, dan lainnya, yang dapat dijual di Eropa dengan keuntungan yang sangat besar. Laporan perjalanan Marco Polo sudah membuka mata masyarakat Eropa untuk menemukan sumber kekayaan tersebut.

 

Ingin tahu info-info tentang sejarah Indonesia, indonesia culture dan beragam budaya yang ada di negara ini. ayo kunjungi saja www.indonesiancultures.com disini kamu akan belajar banyak tentang budaya, adat yang pernah ataupun terjadi di Indonesia

Komentar Untuk indonesia culture, indonesian culture, budaya indonesia, adat indonesia