Posted On 28 Agustus 2021

100 Orang Pemungut Cukai, Bukti Kebesaran Bandar Banjarmasin

Wisnu 0 comments
IndonesianCultures.Com >> The Route >> 100 Orang Pemungut Cukai, Bukti Kebesaran Bandar Banjarmasin

 

Begitu besar dan ramainya perdagangan di bandar ini, membuat Sultan harus menempatkan seorang mantri bandar dengan 100 orang anak buah sebagai pemungut cukai atas kapal dan barang yang masuk ke pelabuhan.

************

Abad 15 akhir hingga awal abad ke-16, Banjarmasin masih belum disinggahi oleh bangsa Eropa. Kerajaan Banjar membuka jaringan perdagangan internasional setelah memiliki hubungan dari jaringan perdagangan yang intens dengan Kesultanan Banten.

Lewat para pedagang Banten, Kerajaan Banjar mulai berkembangn tepatnya pada 1596 di masa pemerintahan Sultan Mustain Billah.

Bandar atau pelabuhan Banjar hanyalah sebuah kampung yang berada di bagian utara muara Sungai Kuin. Bahkan sebelum 1526 belum ada kota besar atau bandar pelabuhan dengan perdagangan yang intens. Sultan Mustain Billah yang membuat nama kampung kecil ini menjadi sebuah kota pelabuhan dengan segala kelengkapannya.

Awalnya hanya kampung kecil diseberang sungai, Source: tropenmuseum

Dalam usahanya mengembangkan ekonomi kerajaan, Sultan berupaya keras mengembangkan pelabuhan. Untuk itu, Sultan menunjuk seorang penguasa pelabuhan, sebagai kepala syah bandar sekaligus kepala bea cukai dengan jabatan yang disebut Kiai Pelabuhan. Jabatan ini lantas berkembang dan berbeda dengan syah bandar.

Syah Bandar kemudian menjadi wakil Sultan dengan kewenangan yang lebih besar dari Kai Pelabuhan. Sebagai wakil Sultan, Syah Bandar hanya mengurusi kegiatan perdagangan dengan para pedagang-pedagang asing. Termasuk didalamnya menentukan harga dan kuota dari jenis komoditas yang boleh dijual. Syah Bandar bertanggungjawab langsung kepada sultan.

Pada masa Sultan Suriansyah, Kiai Pelabuhan juga disebut sebagai Mantri Bandar. Tanggungjawabnya juga bertambah besar mengikuti perkembangan dan dinamika pertumbuhan ekonomi dan pelabuhan. Untuk membantu tugasnya, Sultan memberikan sampai 100 orang untuk membantu tugas mantri bandar dengan kegiatan utama mereka melakukan pemungutan cukai pelabuhan.

Pasar apung, sisa kejayaan bandar pelabuhan Banjarmasin, Source: Ajeng Salsabillah

Sebagai bandar perniagaan, Banten mendapat banyak keuntungan dari berkembangnya pelabuhan Banjarmasin. Lalu lintas pelayaran dagang antarpulau di Nusantara jadi makin lancar, terutama Banten-Banjarmasin. Banten jadi memiliki pasokan pala yang melimpah, karena ikut dipasok olah Kesultanan Banjar.

Banten mendapat keuntungan dari perdagangan ikan kering yang sangat digemari oleh rakyat Banten dan para pedagang asing. Sementara pedagang Banjar membeli beras, lilin, kain dan barang-barang mewah lainnya.

Pelayaran dagang ke Banjarmasin juga ikut mengundang pedagang lain masuk, seperti dari Sulawesi, Jawa, Gujarat, dan Tiongkok. Jalur pelayarannya melewati Cirebon, Gunung Muria, Kepulauan Karimunjawa, Sampit, Pulau Damar, Batu Mandi, Tanjung Cimanten, Sungai Kapuas, Keramaian, dan masuk ke Sungai Barito.

Nama Banjarmasin berasal dari kata Banjarmasih sebelum dirubah Belanda menjadi Banjarmasin. Dalam kontrak di abad ke-17 (1663) dengan VOC menyebut Bandzermasch yang kemungkinan menjadi cikal bakal nama Banjarmasin. IC/III/AND.

 

Ingin tahu info-info tentang sejarah Indonesia, indonesia culture dan beragam budaya yang ada di negara ini. ayo kunjungi saja www.indonesiancultures.com disini kamu akan belajar banyak tentang budaya, adat yang pernah ataupun terjadi di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post

Syahbandar Sleko Saksi Kejayaan Jalur Perdagangan Semarang

Penampakan menara Syahbandar Sleko pada 1900 Source: jejakkolonial Hingga abad ke-18, Semarang masih memegang peran…

Tuban Surut Gresik Bersinar

Saat Pelabuhan Tuban meredup, Pelabuhan Gresik justru tumbuh menjadi bandar baru yang lebih nyaman dan…

Pulau Bintan, Bandar Rempah Pra Kolonial

“Pada abad ke 13-16, pelabuhan dagang Teluk Bintan adalah pelabuhan dagang pra-kolonial.” Catatan Sullatus Salatin.…