Mandau adalah salah satu senjata tradisional asli Indonesia. Senjata mirip pedang atau machete ini, menjadi kebanggan bukan hanya bagi orang Dayak tapi juga menjadi kekayaan budaya Indonesia. Suku Dayak dengan senjata mandaunya, adalah masyarakat yang piwai dalam berperang.  Kemampuan bertahannya, mampu menyelamatkan Kalimantan dari serangan bangsa-bangsa  lain yang ingin mengusai   seperti   bangsa Melayu dan Bangsa Austronesia.

Sebagai sarana mempertahankan diri, ketajaman bilah mandau  membuat berbagai peperangan dapat mereka menangkan. Warisan keahlian perang itu terwujud dalam tradisi Pengayauan atau Ngayau, yakni memenggal kepala musuh-musuh yang kemudian digantungkan ke pintu masuk kampung-kampung Suku Dayak. Ternyata cara ini efektif untuk menakut-nakuti para penyerang. Namun tak semua Suku Dayak memiliki tradisi headhunting. Ada tiga Suku Dayak yang terkenal memiliki tradisi ini, yakni Dayak Iban, Kenyah dan Ngaju.

mandau

Ahli berperang penjaga wilayah, source : Tropen Museum

Konsepsi Magis Mandau

“Michael Coomans, dalam bukunya yang berjudul Manusia Daya (1987), menulis, orang Dayak hidup dalam kepercayaan tradisi adat. Bagi Suku Dayak, kejadian mistis menjadi objek dalam sebuah kepercayaan. Kepercayaan tersebut  menjadikan hal-hal yang berbau mistis menjadi hal yang riil dan objektif. Mandau merupakan benda budaya yang lahir tidak lepas dari konsepsi magis tersebut. Lebih dari sekadar senjata, masyarakat Suku Dayak percaya di dalam mandau bersemayam roh nenek moyang mereka,” terang Reno Halsamer pada Indonesia Culture.

Bagian Senjata Mandau

Lebih lanjut,  Reno menjelaskan, secara anatomi besar, mandau terdiri dari dua bagian, bilah dan sarung ( kumpang). Mandau yang asli terbuat dari batu gunung yang mengandung besi. Ini sama persis dengan  seperti keris di Jawa, yang dibuat oleh seorang mpu yang memiliki kelebihan spiritual. Mandau juga  tidak dibuat oleh sembarang orang, melainkan oleh pandai besi yang mampu ‘mengisi’ mandau dengan roh nenek moyang sehingga bisa menambah power spiritual  bagi yang memilikinya.

mandau magis

Batu Mantikei, bahan pembuat mandau yang kaya unsur besi bermutu, source : yukkepo

Kumpang terbuat dari kayu yang dilapisi tanduk rusa. Biasa diberi ukiran yang konon dipercaya mampu mengusir binatang buas yang hendak menggangu. Pada pangkal kumpang, terdapat jalinan atau rajutan rotan yang berfungsi sebagai tali pengait di pinggang. Pada punggung kumpang, terdapat kantung kecil yang biasa diisi pisau pahat atau senjata tradisional lain yang berukuran lebih kecil dari mandau.

Bagian bilah mandau berbentuk menyerupai tingang yang oleh masyarakat Suku Dayak dianggap sebagai burung suci. Walaupun bilah mandau seragam berbentuk burung tingang, tapi tiap-tiap mandau memiliki ukiran yang berbeda.

bagian senjata mandau

Pejuang Dayak masa lalu dengan hasil headhuntingnya, source : Tropen museum

Perbedaan Mandau dan Ambang

“Banyak orang Dayak menyebut mandau dengan sebutan ambang. Karena secara bentuk, mandau dan ambang memang serupa. Tapi saat ditelisik lebih dekat, terdapat perbedaan yang sangat besar. Ambang bisa dibilang sebagai tiruan mandau. Tidak seperti mandau, ambang terbuat dari besi biasa, dan tidak ‘berisi’ seperti mandau. Rahasianya ternyata terletak pada bahan besi pembuatnya. Mandau yang istimewa biasa terbuat dari batu mantikei, yang sangat kuat namun mudah dibentuk sesuai kebutuhan,” papar kolektor benda antik ini.

Ada kepercayaan, orang yang memiliki mandau diyakini juga akan mempunyai penyangPenyang merupakan ilmu yang diwariskan oleh para leluhur dalam berperang. “Mandau kerap dikaitkan dengan mitos Panglima Burung atau Pangalima, seorang tokoh yang dipercayai sebagai tokoh pelindung dan pemersatu masyarakat Dayak. Panglima Burung dipercaya tinggal di daerah gaib pedalaman Kalimantan dan mengawasi seluruh kehidupan Suku Dayak di Kalimantan. Panglima Burung akan muncul sewaktu-waktu dalam bentuk seutuhnya atau merasuki seseorang untuk menolong apabila Suku Dayak sedang dalam posisi terancam, teraniaya, atau hendak berperang. Panglima Burung adalah sosok yang cinta damai, mengalah, suka menolong, pemalu, sederhana, tapi akan berubah kejam dan gagah berani ketika posisi mereka terancam. Biasanya masyarakat Dayak melakukan ritual Tari Perang untuk memanggil Panglima Burung,” pungkas Reno mengakhiri wawancara dengan Indonesian Cultures. IC/VII/AND/23

Komentar Untuk Mandau, Balutan Mistis Senjata Magis Suku Dayak