• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Legenda
  • Post last modified:28 Desember 2021
  • Reading time:4 mins read

Sejak dulu kawasan ini diyakini sebagai pusat kekuatan gaib tanah Pasundan. Beberapa leluhur Sunda bersemayam di tempat ini. Kono, ada satu ajian dahsyat milik sepasang suami isteri yang tersimpan secara gaib di tempat tersebut.  

Kawasan Gunung Galunggung di Tasikmalaya, Jawa Barat sejak dahulu kala dikenal sebagai pusat gaib di tanah Pasundan. Galunggung dianggap sebagai kabuyutan. Di Galunggung terdapat sosok gaib Sanghyang Tapak Parahyangan yang dianggap sebagai leluhur masyarakat Sunda. 

Dalam cerita legenda disebutkan, dahulu kala, tatar Pasundan merupakan daerah perairan yang hanya terdapat satu daratan berupa sebuah gunung yang kemudian diberi nama Galunggung. Kemudian, datanglah serombongan orang yang menumpang perahu datang ke tempat itu dan menetap.

Nenek moyang Sunda menjadikan Galunggung sebagai sebuah kabuyutan atau Sanghyang Tapak Parahyangan.  Galunggung sebagai kabuyutan termaktub dalam Babad Tanah Jawi dan Carita Parahyangan yang menyebut, putra sulung Raja Galuh, Sempak Waja menjadi Batara di Galunggung bergelar Batara Dangiang Guru.

Kedudukan Batara di Galunggung didukung oleh penemuan naskah kuno lain dengan kode Kropak 406, yang isinya menerangkan sekitar 1030-an, datanglah Darmasiksa atau Sri Jayabupati menghadap Batara keturunan Batara Dangiang Guru Sempak Waja, meminta wilayah yang kemudian diberi nama oleh Batara yang berkuasa itu sebagai tempat tinggal Sang Karma atau Saunggalah. Darmasiksa atau Sri Jayabupati menurut Carita Parahyangan adalah anak dari Sang Lumahing Winduraja. Namun menurut naskah Pangeran Wangsakerta, Jayabupati adalah Raja Sunda ke-20 yang memerintah pada 1030-1042.

Kabuyutan

Sebagai cikal bakal leluhur tanah Sunda, Galunggung hingga kini diyakini sebagai salah satu gunung keramat yang ada di tatar Pasundan. Galunggung konon merupakan pusat atau tahtanya para dewa. Di gunung tersebut bermukim sebuah kerajaan jin terbesar di Jawa Barat.

Setelah kalah perang dari pasukan Kesultanan Cirebon, kerajaan jin tanah Pasundan kemudian memilih menetap di Galunggung dan menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi kerajaannya hingga kini. Gunung berapi yang pernah meletus dahsyat pada 1982 lalu itu diselimuti kekuatan mistis yang sangat kuat.

Beragam peristiwa gaib kerap meliputi gunung tersebut. Salah satunya, penampakkan UFO atau benda angkasa pada Juli 1982 lalu atau beberapa hari sebelum gunung tersebut meletus dahsyat. Tiga buah UFO tampak melayang di atas gunung. Beberapa saat kemudian, sebuah sinar berwarna merah jingga menyorot dari arah UFO menghunjam ke dasar kawah.

Kejadian yang banyak disaksikan oleh ribuan pasang mata masyarakat Tasikmalaya dan Jawa Barat itu ternyata menjadi pertanda gunung itu akan menebar bencana. Benar saja, beberapa hari kemudian, Galunggung meletus. Letusannya sangat kuat hingga menewaskan ratusan orang.

Sejak peristiwa letusan itu, nama Galunggung kemudian mencuat. Tragedi letusannya merupakan yang terlama di dunia. Kelompok penghayat spiritual ada yang mensinyalir jika letusan itu akibat ulah penghuni gaib kawasan selatan Pasundan.

Ajian Dahsyat

Konon, di zaman dulu ada sepasang suami isteri bernama Aki Prana dan Nini Prana. Sawah mereka sangat luas. Namun, anehnya sawah itu hanya digarap pada malam hari dan tidak dilakukan oleh manusia. Setiap malam menanam padi, keesokan harinya bisa langsung dipanen.

Pasangan suami isteri itu hanya tinggal berdua saja, sementara sawah yang dimilikinya sangat luas. Ternyata, pasangan suami isteri itu memiliki ilmu Aji Rempug Galunggung yang terkenal dahsyat. Ajian tersebut jika diamalkan maka dapat dengan mudah memberdayakan jin dan makhluk lelembut untuk membantu menyelesaikan sesuatu pekerjaan tanpa menguras tenaga.

Konon pula, ajian itu pernah digunakan oleh tokoh Sangkuriang untuk membantu membendung Sungai Citarum dan membuat perahu hanya dalam satu malam saja. Dikatakan Abah Opang, sesepuh Galunggung, ajian Rempug Galunggung kini banyak diburu oleh para jawara yang mengasah ilmu di Galunggung.

Mereka yakin ilmu tersebut masih ada dan bisa dimiliki oleh siapa saja yang bersedia melakukan tirakat di kawasan kawah Galunggung.

Oleh penguasa Kesultanan Cirebon, permohonan itu diluluskan hingga akhirnya beberapa mantra ilmu dahsyat dari Galunggung sudah mengalami percampuran dari bahasa Sunda Kuno dan Bahasa Arab.

Setelah Olot Galunggung meninggal dunia,  ilmu dashyat yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan itu kemudian diwariskan ke Aki dan Nini Prana untuk dirawat. Lewat jasa Aki dan Nini Prana, siapapun orangnya bisa mendapatkan tuah dari Aji Rempug Galunggung tersebut.IC/IV/AND/25.

Komentar Untuk Sanghyang Tapak Parahyangan, Penjaga Pusat Gaib Tanah Sunda