• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:News
  • Post last modified:5 Juli 2022
  • Reading time:5 mins read

 

Penguasa Kraton Surakarta, memiliki tempat menyepi yang tersebar di lereng Merapi dan Merbabu. 

 

***************<>***************

Para penguasa tanah Jawa tempo dulu dikenal  memiliki kehidupan spiritual yang kuat. Bangunan atau tempat-tempat untuk menyepi, mendekatkan pada penguasa kehidupan, yang sampai saat ini masih bisa dijumpai, menjadi buktinya. Pesanggrahan atau panepen tersebut biasanya dibangun di tempat-tempat yang juga memiliki aura spiritual tinggi, seperti lereng gunung atau daerah pinggir laut. 

 

Dan salah satu tempat keramat tersebut adalah Pesanggrahan Pracimohardjo, yang dulu merupakan tempat menyepi penguasa Keraton Surakarta, Pakubuwono X (PB X). Pesanggrahan Pracimohardjo berada di sisi timur Gunung Merapi, atau tepatnya di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa – Tengah. 

 

Di tempat ini masih bisa ditemui peninggalan-peninggalan bangunan fisik. Antara lain sumur, tempat ibadah, taman, dan cagak gendero (tiang bendera) yang konon bila dulu benderanya dipasang bisa terlihat dari Keraton Surakarta. Ada pula sebuah batu besar yang sering digunakan PB X bersemedi. Juga lahan yang luasnya mencapai ribuan meter persegi dengan pagar kuno mengelilinginya. 

 

Menurut Mulyanto Sumomiyanto, juru kunci, Pesanggrahan Pracimohardjo dibangun oleh Pakubuwono VI, kemudian pernah dipugar oleh PB X. Saat pecah perang kemerdekaan, pesanggrahan sempat dipakai markas tentara Belanda. Berada di ketinggian, tempat ini memang sangat strategis untuk benteng pertahanan. 

 

“Tapi mereka hanya bertahan setahun di tempat ini karena banyak tentara yang mati tanpa sebab jelas,” tutur Mulyanto yang menyandang gelar dari Keraton Surakarta, KRT Mulyo Hadinegoro.   

 

Setelah ditinggalkan Belanda, ganti tentara Indonesia yang mendudukinya. Sayang oleh komandan tentara republik wilayah Surakarta waktu itu, pesanggrahan diperintahkan untuk dibumihanguskan. Ada kekhawatiran Pesanggrahan Pracimohardjo akan digunakan lagi oleh tentara musuh. Karena kebijakan bumi hangus inilah bangunan pesanggrahan yang sebenarnya sangat indah tidak dapat dilihat secara utuh sekarang. “Harusnya khan tidak perlu sampai dibakar. Lha wong Belanda sudah tidak berani menempatinya koq,” sesal Mulyanto.

 

Meski sudah tidak utuh lagi, kalangan spiritualis meyakini bahwa bekas pesanggrahan ini masih memiliki aura spiritual yang kuat. Terutama pada batu besar yang dulu biasa digunakan PB X bersemedi, berkomunikasi kepada Tuhan dan penguasa gaib lainnya. Batu ini terletak pada sebuah bangunan yang sekarang sering disebut Sanggar Pamelengan. Layaknya benda keramat, batu ini dibungkus dengan kain mori dan tidak sembarang orang boleh mendudukinya. “Pernah ada yang kurang ajar menduduki, tidak lama orang itu mendapat musibah,” ungkap Mulyanto.

 

Sakti Perkasa di Sumber Pitu

 

Masih di Kecamatan Cepogo, tepatnya di Dusun Kunti, Desa Cabean Kunti, juga bisa ditemui jejak-jejak spiritual penguasa Keraton Surakarta. Warga sekitar menyebut   Sumur atau Sumber Pitu. Konon tempat ini sering dipakai Paku Buwono X untuk menyepi, di sela-sela aktivitas spiritualnya di Pesanggrahan Pracimohardjo. 

 

Seperti namanya, Sumur Pitu (tujuh) berwujud sumber mata air yang berjumlah tujuh., beberapa di antaranya berbentuk candi patirtan. Ketujuh sumber yang masing-masing memiliki nama tersebut terbagi dua, dipisahkan oleh jalan desa. Di sisi barat jalan ada tiga yaitu lerepan, sidotopo, dan jangkang. Sementara empat sumur berada  yang di sebelah timur adalah keputren, panguripan, lanangan, dan kesucian. 

Uniknya, nama-nama yang ada mengacu pada keyakinan akan khasiat air dari masing-masing sumber tersebut. Air di sumber keputren (keputrian) yang diperuntukkan untuk kaum hawa diyakini bisa membuat cantik dan awet muda. Sumber panguripan (kehidupan), diyakini membawa berkah penglarisan dalam berdagang, memberi kesehatan, dan lain-lain. Sumber kesucian biasa digunakan untuk menyucikan diri. Sementara sumber lanangan yang diperuntukkan untuk kaum laki-laki, diyakini bisa memberi kesaktian dan keperkasaan lainnya. 

 

“Menurut cerita orang-orang tua, para prajurit jaman dulu sebelum maju perang atau lulus pendidikan sebagai prajurit, dimandikan di sumber lanang ini,” kata Miskam, warga desa yang dipercaya menjadi juru kunci petilasan ini. 

 

Warga sekitar meyakini bahwa Sumur Pitu adalah peninggalan Kyai Kertodongso, pepunden desa, yang memiliki istri bernama Dewi Kunti. Suatu saat dia memiliki rencana untuk membuat sebuah pemandian atau patirtan dan diberitahukannya rencana itu pada istrinya. Tempat dia membeberkan rencananya itu sekarang disebut sumber jangkang (dari kata jangka = rencana). Untuk mewujudkan rencana itu, Kyai Kertodongso memohon petunjuk pada Hyang Widhi dengan bertapa di tempat yang sekarang disebut Sidotopo. Setelah itu dia beristirahat, menenangkan diri di Lerepan (dari kata lerem atau tenang). 

Sebagai tempat yang dikeramatkan, warga lereng Merbabu sebelah timur itu sangat menghormati Sumber Pitu. Salah satunya dengan meyakini sebuah pantangan, yaitu tidak boleh berbuat hal-hal tercela di tempat itu dan mengenakan ikat kepala warna wulung (hitam). Setiap Selasa Kliwon, masyarakat sekitar juga tak pernah lupa mengadakan ritual anggoro kasihan. Berupa upacara kenduri bersama yang bertujuan merawat sumber. 

“Tradisi anggoro kasihan, selain bertujuan untuk nguri-uri, memelihara budaya leluhur, juga untuk memohon pada Gusti Allah agar air dari sumber ini tidak surut,” jelas Widodo. Suatu ketika, pernah ritual tersebut tidak dijalankan oleh penduduk. Akibatnya, air jadi berhenti sama sekali, semua, dari ketujuh sumber tidak ada yang keluar. “Padahal air ini biasa digunakan untuk keperluan satu desa,” kenang Widodo. Foto : her/ IC/VII/AND/02

 

Ingin tahu info-info tentang sejarah Indonesia, indonesia culture dan beragam budaya yang ada di negara ini. ayo kunjungi saja www.indonesiancultures.com disini kamu akan belajar banyak tentang budaya, adat yang pernah ataupun terjadi di Indonesia

Komentar Untuk indonesia culture, indonesian culture, budaya indonesia, adat indonesia