• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Situs
  • Post last modified:4 Maret 2022
  • Reading time:5 mins read

Oleh para peneliti batu-batu itu disebutkan hasil kebudayaan ribuan tahun sebelum masehi. Bentuknya yang nyaris sempurna diyakini oleh masyarakat adalah perwujudan dari kutukan tokoh sakti yang berjuluk Si Pahit Lidah.

******************

Batu gelondongan yang amat besar itu memang luar biasa uniknya. Bukan pada bobotnya yang besar, tetapi pada bekas tatahan, goresan dan guratan disekujur batu andesit berupa adanya sosok besar raksasa manusia tambun dengan bibir tebal, mata belok, telinga besar dan hidung yang pesek.

Sosoknya gempal dan tangannya gemuk serta kaki bergelang, berikut hiasan tubuh dengan atribut yang berlainan dengan seni arca kuno peninggalan masa budha dan hindu yang ada di Indonesia.

Proses penemuan batu itupun ternyata cukup unik. Lukman si pemilik lahan tempat batu tersebut ditemukan, mengaku bermimpi pada malam sebelumnya jika dikebunnya ada sesuatu. Ia kemudian menuruti mimpi itu dan menggalinya. Benar saja ia menemukan dua bilik batu berpahat di tempat tersebut.

Kabupaten Lahat dan Kota Pagar Alam memang menyimpan banyak tradisi megalitik. Wilayah Lahat dan pagar Alam sendiri merupakan bagian dari pegunungan Bukit Barisan, di Pantai Barat Sumatra. Kedua kawasan itu hingga kesebagian wilayah Bengkulu disebut sebagai kawasan Besemah atau sejak pemerintah kolonial menyebut dan menuliskannya sebagai Pasemah. Nama inilah kemudian lebih akrab dikalangan masyarakat luar daerah ini.

Peninggalan Megalitikum Basemah
source : kemendikbud

Penelitian Batu Pasemah

Basemah merupakan daerah pegunungan subur untuk pertanian sehingga tak heran bila kawasan tersebut menjadi pusat pemukiman sejak ribuan tahun silam.

Peninggalan megalitik Basemah mulai diteliti tahun 1830 sampai 1931 oleh Van der Hoop, naturalis dari Belanda. Buku karya Van der Hoop berjudul, Megalithics Remains ini south Sumatera 1932 merupakan buku babon yang mengulas megalitik Besemah secara lengkap.

Lebih dari lima puluh tahun setelah Van der Hoop menulis bukunya, pada 1988 ditemukan lagi tujuh bilik batu di desa Kota Raya Lembak, Kecamatan Pajar Bulan, Lahat. Tujuh batu itu tersembunyi di bawah tanah diantara rimbunnya kebun kopi. Dari segi jumlah, penemuan tujuh bilik batu merupakan penemuan peninggalan megalitik terbesar dikawasan Besemah.

Di dalam salah satu bilik batu, sampai saat ini masih bisa dilihat lukisan berbentuk kepala naga. Lukisan tersebut dibuat diatas batu dengan menggunakan sejenis oker paduan warna merah dan putih.

Penemuan Arkeologi Terbaru

Penemuan peninggalan megaliltik terbaru adalah dua bilik batu di desa Talang Pagar Agung pada Desember 2009. Ukuran ruangan di dalam kedua bilik itu sekitar 2×1,5 meter dengan ketinggian 1,8 meter. Penemuan itu istimewa karena di dalam bilik batu ditemukan arca kepala manusia setinggi 30 centimeter.

Di Desa Pulau Panggung, Kabupaten Lahat, pada 2009 juga ditemukan sebuah lumpang batu yang terkubur di kedalaman satu meter di tengah kebun kopi. Lumpang tersebut diukir berbentuk ular yang sedang menelan anak kecil. Warga yang menemukan lumping batu itu juga mengaku mendapat mimpi sebelum menggali tanah.

Di dinding bilik batu di Tulang Pagar Agung, terdapat lukisan berbentuk lingkaran, lukisan tangan manusia dan lukisan seekor binatang mirip kadal. Di bagian atapnya ada lukisan berbentuk pola anyaman.

Peninggalan Megalitik di Basemah

Banyaknya peninggalan megalitik di Besemah adalah suatu petunjuk bahwa kawasan itu telah dihuni manusia setidaknya sejak 2500 tahun sebelum masehi. Pahatan detail dan sangat halus menunjukkan bahwa masyarakat Besemah kala itu sudah mengenal logam.

Peninggalan Megalitik di Basemah
source : kemendikbud

Kutukan Si Pahit Lidah

Seorang peneliti balai arkeologi Palembang berpendapat bahwa bilik batu ataupun arca di Besemah itu dibangun untuk tujuan religius. Di dalam tanah dan situs Pulau Panggung menurut sang peneliti adalah ciri khas Besemah. Cirinya, bentuk manusia yang digambarkan dalam arca adalah bertubuh tambun, bibir tebal, dan hidung yang pesek.

Cikal bakal manusia yang hidup di Besemah kemungkinan berasal dari manusia gua yang hidup 5.000-9.000 tahun sebelum masehi. Bekas-bekas kehidupan manusia gua ditemukan di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan. Dengan kata lain kebudayaan manusia gua jauh lebih tua dari pada kebudayaan manusia Besemah.

Kuat dugaan bahwa masyarakat Besemah yang menciptakan bilik batu atau arca berkembang setelah masuknya pengaruh kerajaan Sriwijaya pada abad VII  masehi dan masuknya pengaruh Islam di masa-masa setelahnya.

Batu-batu yang memiliki bentuk pahatan yang cukup halus itu telah lama menyebutkan jika batu-batu tersebut adalah hasil perbuatan Si Pahit Lidah kepada orang-orang atau bintang yang disumpahinya menjadi batu.

Cerita tentang Si pahit Lidah memang cukup mengakar disebagian besar masyarakat Besemah hingga saat ini. Bahkan mereka percaya jika SI Pahit Lidah masih memiliki keturunan dengan kemampuan dan kesaktian yang sama dengan leluhurnya. Maka terhadap batu-batu tersebut sebagian orang juga tak berani bertindak semena-mena karena dianggap memiliki nyawa dan bisa Memberikan balasan jika diperlakukan kurang sopan.

Kutukan Si Pahit Lidah
source : kemendikbud

Beda Gaya Pengarcaan

Menurut Van der Hoop dan HW Vonk yang juga melakukan penelitian terhadap batu-batu megalitik di Besemah, disebutkan bahwa sebenarnya tidak ada cirri-ciri sebagai pertanda lazimnya suatu arca berbudaya hindu seperti cakra dan sangka.

Arca batu Besemah yang disebut-sebut bersifat dinamis dan berukuran besar serta sosoknya yang unik tidak mungkin digunakan dalam tata upacara hindu.  Bahkan arca antropomorf yang berbibir tebal dengan pipi gembil, badan tambun dan mata belok sangat tidak mungkin digunakan sebagai perangkat upacara tetapi kemungkinan penggambaran atau personifikasi dari arwah yang meninggal atau para pemimpin yang disegani masyarakat.

Batu-batu Besemah disebut-sebut oleh para peneliti asing sebagai suatu yang sangat istimewa. “Gaya pengarcaan yang menggabungkan sosok manusia dengan wujud hewan merupakan gaya yang strongly dynamic Agitated, suatu budaya monumental ala Besemah yang merupakan loka genius tidak tara. Tidak sama dan tidak ada kesamaannya dengan peninggalan megalit di Nias, Sumba, Jawa, Sulawesi dan Kalimantan,” tulis Von Heine Gelderen.

Andaikan Potensi budaya megalit ini dimanfaatkan dan dimekarkan, nama Besemah dengan Gunung Dompu  pasti akan masyhur di dunia karena batu besar Besemah tersebut merupakan satu-satunya di dunia. IC/VI/AND/25

Komentar Untuk Batu Megalitik Basemah, Orang Yang Konon Dikutuk Si Pahit Lidah