• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica
  • Post last modified:20 November 2023
  • Reading time:3 mins read
source : gana islamika

 

Indonesian Islamic Art Museum atau Museum Islam di Lamongan, Jawa Timur, menyimpan beragam koleksi sejarah peradaban  Islam hingga masuk ke Nusantara. Namun ada satu koleksi yang terbilang unik dan mungkin tidak ada di museum lain selain di Museum Islam Lamongan. Pengunjung akan menemukan sosok ksatria Mamluk bertameng di atas kuda besi.

Kisah Ksatria Mamluk

Buku History of The Arabs karya Philip K. Hitti, menyebutkan Mamluk adalah dinasti yang luar biasa. Mereka beradal dari  budak-budak  berbagai ras yang akhirnya membentuk suatu pemerintahan dan kerajaan. Dinasti Mamluk (1250-1517 M) menggantikan dinasti Ayyubiyah di Mesir, nama  Mamluk bermakna hamba sahaya ketika para panglima yang memegang kekuasaan ketentaraan berasal dari hamba sahaya yang dibeli lalu diasuh semenjak kecil dan dilatih.

Kaum   Mamluk   dilatih   sebagai   tentara  berkuda.  Mereka  harus  mematuhi  Furisiyyah,  aturan sebagai prajurit  seperti  keberanian  dan  kemurahan  hati  dan  juga  doktrin mengenai strategi berperang dengan menunggang berkuda, ketrampilan  memanah dan juga kecermatan dalam merawat luka atau cedera.

Tentara  Mamluk  ini  hidup  di  dalam  komunitas tertutup.  Ketika ada  waktu   luang,  mereka isi   dengan   permainan-permainan   yang   meningkatkan   ketrampilan memanah   dan juga persembahan  kemahiran  berlaga  di  medan  perang.  Latihan  yang  intensif  dan  ketat diperuntukkan terutama pada anggota baru yang akan   memastikan   bahwa   kebudayaan Mamluk ini berlanjut.

Setelah  tamat  latihan,  tentara  Mamluk  ini  dimerdekakan  tetapi  mereka  harus  setia  kepada  khalifah  atau  sultan.  Mereka  mendapatkan  komando terus dari    khalifah    atau    sultan.    Tentara    Mamluk   selalu    dikerahkan    untuk    menyelesaikan  perselisihan  antara  suku  setempat.  Pemerintah  setempat  seperti amir  juga  mempunyai  pasukan  Mamluk  sendiri  tetapi  lebih  kecil  dibandingkan  pasukan Mamluk Khalifah atau Sultan. Pada  mulanya,  status  tentara  Mamluk  ini  tidak  boleh  diwariskan  dan  anak  lelaki  tentara  Mamluk  dilarang  mengikuti  jejak  langkah  ayahnya.

Di  sebagian  kawasan  seperti Mesir,   tentara  Mamluk  mulai  menjalin  hubungan  dengan pemerintah setempat dan akhirnya mendapat pengaruh yang luas. Kemajuan di bidang Ilmu kemiliteran Masa-masa   dinasti    Mamluk    ini    dapatlah    dikatakan    mengalami    kemajuan   di   berbagai   bidang,   diantaranya   adalah   kemajuannya   di   bidang   militer.

Pada suatu masa, orang-orang ini berhasil merebut tahta dan mendirikan Dinasti Mamluk. Prajurit Mamluk terdiri atas pejuang-pejuang Islam yang perkasa.Sejarah peradaban Islam mencatat, kehebatan pasukan berkuda Islam telah menjadi kunci kemenangan dalam berbagai pertempuran penting.

Reno Halsamer, pendiri Museum Islam Lamongan, mengungkap bahwa seluruh koleksi bernafaskan Islami dapat menginspirasi generasi muda untuk semakin menghargai dan mencintai sejarah, terutama tentang kejayaan peradaban Islam baik di Nusantara maupun dunia. IC/AND/XVI/09

Komentar Untuk Menengok Kisah Heroik Pasukan Mamluk di  Museum Islam Lamongan