• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica
  • Post last modified:25 Januari 2023
  • Reading time:4 mins read

 

Sosok Gajah Mada diperkirakan lahir pada 1290 dan wafat pada 1364. Tidak banyak yang tahu jika mahapatih ini memiliki nama asli Jirnnodhara. Menurut beberapa sumber puisi, kitab dan prasasti, Gajah Mada memulai karir militernya pada 1313 saat menjadi pengawal raja Jayanegara. Selain menjadi pelindung raja, Gajah Mada juga mampu menyusun strategi untuk memadamkan dan menumpas pemberontakan yang merongrong kewibawaan Majapahit.

Reka wajah Gajah Mada bahan  terakota, source : uc.ac.id

 

Beberapa ahli sejarah menyebut nama Gajah sebagai nama depan itu mengacu pada binatang besar yang sangat ditakuti sekaligus disegani oleh bintang lain juga. Namun arti simbolnya dalam mitologi hindu adalah gajah adalah wahana atau hewan tunggangan (kendaraan) Dewa Indra. Tidak sedikit juga yang menghubungkan sebutan gajah ini dengan Ganesa, dewa yang berbadan manusia dengan kepala gajah. Sementara kata mada menurut bahasa Jawa kuno adalah mabuk.

Jika digabungkan dan diartikan secara bebas, maka nama tersebut adalah  “Gajah Mabuk.” Tentu saja bukan dalam konotasi negatif, namun justru menunjukkan kekuatannya. Karena jika gajah dalam kondisi mabuk maka tidak ada orang atau kekuatan yang mampu menandinginya. Sehingga para ahli lantas punya 2 tafsir.  Gajah Mada menganggap dirinya sebagai wahana raja sekaligus eksekutor perintah atau kehendak raja sebagaimana gajah Airawata tunggangan Dewa Indra. Tafsir kedua adalah gajah mabuk yang tak ada orang yang berani menghalanginya.

 

Menurut arkeolog Agus Aris Munandar,  Gajah Mada adalah orang yang memerintahkan pembangunan Candi Singhasari untuk memuliakan Raja Kertanegara. Berdasarkan data prasasti, karya sastra, dan artefak, ada dua alasan besar  mengapa Gajah Mada memuliakan Kertanagara hingga mendirikan candi.  Pertama Gajah Mada mencari legitimasi untuk mendukung kampanye perluasan wilayah Majapahit  melalui Sumpah Palapa. Seperti diketahui, Kertanegara adalah panutan Gajah Mada dalam penaklukan wilayah dengan  wawasan Dwipantara Mandala semasa kerajaan Singhasari.

Alasan kedua, agaknya,  Gajah Mada masih ada pertalian darah  dari Raja Kertanagara. Ayah Gajah Mada mungkin sekali bernama Gajah Pagon yang mengiringi Raden Wijaya ketika melawan pasukan Jayakatwang dari Kediri.  Gajah Pagon  anak dari salah satu selir Kertanagara, hal ini disebutkan di kitab Pararaton, nama Gajah Pagon disebut secara khusus. Ketika itu, Raden Wijaya begitu mengkhawatirkan Gajah Pagon yang terluka dan dititipkan kepada seorang kepala desa Pandakan. Menurut Aris Munandar, sangat mungkin Gajah Pagon selamat dan  menikah dengan putri kepala desa Pandakan hingga   memiliki anak, yaitu Gajah Mada yang kemudian mengabdi di  Majapahit.

Ini artinya Gajah Mada kemungkinan memiliki eyang yang sama dengan Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Bedanya, Gajah Mada cucu dari istri selir, sedangkan Tribhuwana  cucu dari permaisuri  Kertanagara. Dengan demikian, tidak mengherankan dan dapat dipahami mengapa Gajah Mada sangat menghormati Kertanagara karena Raja itu adalah eyangnya sendiri.

Mengawali karir sebagai prajurit yang naik menjadi  bekel atau (kepala pasukan Bhayangkara (pengawal Raja) pada masa Prabu Jayanagara  (1309–1328).  Ia berhasil  menyelamatkan Jayanagara  ke desa Badander serta  memadamkan pemberontakan Ra Kuti. Atas prestasinya itu, Gajah Mada  menjadi patih di Kahuripan (1319). Dua tahun berselang ia menjadi patih di Daha (Kediri).

Posisi ini membuat Gajah Mada masuk  ke strata elitis keraton   Majapahit. Keluarga Raja sangat terpesona dengan sosok  Gajah Mada digambarkan  sebagai “seorang yang mengesankan,  bicaranya tegas, jujur dan tulus ikhlas serta berpikiran sehat”.  

Patung Gajah Mada di Madakaripura, source : beritaku

 

Setelah Gayatri meninggal pada 1331, Tribhuwana Wijayatunggadewi mengangkat Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih Amangkubhumi. Meski memiliki nama besar,  akhir riwayat Gajah Mada tidak begitu jelas.  Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada Biografi Politik menyatakan  Kakawin Nagarakretagama  mengisahkan akhir hidup Gajah Mada dengan kematiannya yang wajar pada  1286 Saka atau sekitar 1364 M.  Gajah Mada memang sakit dan meninggal di area Karsyan, Kota Majapahit . hal ini ada tertulis di Nagarakretagama yang menyatakan ketika Raja Hayam Wuruk sedang berziarah ke Blitar,  Rajasanagara secara mendadak kembali ke ibu kota Majapahit  setelah mendengar sang patih sakit.

Namun  cerita-cerita rakyat Jawa Timur mengisahkan Gajah Mada  menarik diri setelah skandal perang  Bubat dengan menjadi  pertapa di Madakaripura di  kaki pegunungan Bromo-Semeru, Probolinggo. Sementara  Kidung Sunda mengisahkan jika Gajah Mada tidak meninggal melainkan  moksa dalam pakaian kebesaran bak Dewa Wisnu. Gajah Mada   moksa di kepatihan   ke khayangan.  IC/AND/XIII/06

 

Komentar Untuk Perjalanan Hidup Gajah Mada yang Penuh Misteri