• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica
  • Post last modified:23 Maret 2023
  • Reading time:4 mins read

Masa prasejarah Bali meliputi tingkat-tingkat kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan. masa bercocok tanam, dan masa perundagian atau kemahiran teknik.

Gua Selonding, Pecatu (Badung) source : kemdikbud

 

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan di Bali hingga sekarang, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi:

  1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana.
  2. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut.
  3. Masa bercocok tanam.
  4. Masa perundagian.

Masa Berburu dan Meramu Makanan Tingkat Sederhana

Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal  ditemukan di Sambiran (Buleleng  timur), serta di tepi timur dan tenggara Danau Batur Kintamani berupa  alat-alat batu :  kapak genggam, kapak perimbas, serut  dan sebagainya. Kehidupan manusia  pada masa ini  sederhana sekali, sepenuhnya tergantung pada alam lingkungannya. Mereka hidup mengembara dari satu tempat ketempat lainnya (nomaden).

source : infogram

Daerah hunian  yang dipilih harus mengandung persediaan makanan dan air yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidup.  Berburu oleh kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Tugas berburu dilakukan oleh kaum laki-laki, perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan misalnya mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya.

 

Masa Berburu dan Meramu tingkat Lanjut

Pada masa ini corak hidup  dilanjutkan dengan pembuatan alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang. Bukti-bukti kehidupan masa itu  ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung).

Temuan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang seperti  lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm dengan  kedua ujungnya runcing.

Masa bercocok tanam

Kehidupan  mengumpulkan makanan (food gathering) berubah jadi menghasilkan makanan (food producing). Perubahan ini berarti  sangat besar bagi kemajuan hidup manusia. Masa ini dibuktikan dengan penemuan kapak batu persegi,  belincung dan panarah batang pohon.

Nenek moyang bangsa Austronesia  mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun SM sekira masa Neolitikum. Gelombang perpindahan kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 SM. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa sekarang.  Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan jalan tukar menukar barang.

Masa Perundagian

Masa neolithik, manusia mulai menetap secara berkelompok  serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan).

Penemuan kerangka  di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongoloid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. “Manusia Gilimanuk” terdeteksi mengalami  penyakit gigi dan encok akut yang menyebabkan kematian mereka.

Sarkopagus yang ditemukan di Bali, source : kemdikbud

Masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras.

Cara penguburan kedua   dengan menggunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk.  Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian di antaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak.

Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar.  Bali masih terus melestarikan  tradisi megalithik sampai  dewasa ini.

Salah satu bukti dan koleksi kerangka manusia Gilimanuk- Bali, source : detik

 

Bukti masa megalitikum ini   berupa batu berdiri atau menhir   yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Juga  arca Da Tonta yang  memiliki tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di Sembiran, Buleleng,  Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk. Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.

Temuan lainnya ada di  Gelgel, Klungkung berupa   arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung. Arca  dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat. IC/AND/XIV/03

 

Komentar Untuk Perjalanan Masa Prasejarah Bali