• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica / Situs
  • Post last modified:20 April 2022
  • Reading time:3 mins read

Beberapa temuan situs purbakala mengindikasikan, wilayah Bali adalah kawasan dimana peradaban manusia muncul.

Penemuan bukti-bukti  tentang kehidupan pada masyarakat Bali, dari zaman prasejarah ini membuktikan perjalanan waktu yang tidak sebentar.  DR Van Heekeren lewat penelitian dan tulisannya yang berjudul Sarcophagus On Bali yang diterbitkan pada 1954 sedikit banyak telah menguak tabir kehidupan masyarakat Bali di masa lalu.

Drs RP Soejono, pakar sejarah Indonesia lantas melanjutkan penelitian pendahulunya itu dari rentang tahun 70- 80 an. Penelitian itu mendapatkan temuan sebuah perkampungan nelayan di pantai Teluk Gilimanuk. Tempat itu lantas disebut sebagai Situs Gilimanuk.

Situs Gilimanuk ini membuktikan bahwa kawasan teluk Gilimanuk dan Pulau Bali telah dihuni manusia modern yang kemungkinan berprofesi sebagai pencari ikan atau nelayan. Masa tersebut masuk zaman perundagian.

Bukti-bukti itu mengarahkan pada kesimpulan yang dapat  menunjukkan priodesasi  kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah. Pertama masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana. Kedua masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Ketiga, masa bercocok tanam dan terakhir masa perundagian.

Sisa-sisa dari fase kebudayaan paling awal itu diketahui lewat temuan Sambiran di Buleleng Timur. Penelitian-penelitian yang dilakukan sejak  1960 menemukan fakta unik dari masyarakat Bali pada masa berburu dan meramu pada tingkat yang masih sederhana.

Temuan yang sama juga didapati di  tepi timur dan tenggara dari Danau Batur di kawasan Kintamani. Peralatan yang ditemukan adalah alat-alat bantu yang terbuat dari batu seperti Serut, kapak genggang, kapak berimbas, serpih dan lain sebagainya. Semua temuan-temuan itu saat ini disimpan di Museum Gedong Arca di Giayar.

Jelas sekali kehidupan manusia pada masa itu sangat sederhana dan sepenuhnya bergantung pada alam. Hidup berpindah-pindah atau nomaden, mencari daerah yang memiliki  persediaan makanan dan air yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya.

Mereka  berburu dalam  kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Umumnya tugas berburu dan mencari sumber pangan ini menjadi tugas laki-laki. Ini karena perburuan hewan membutuhkan tenaga besar untuk melakukannya. Sementara kaum wanita bertugas mengurus anak dan mengumpulkan makanan yang ada di sekitar tempat tinggal.

Belum ada kesimpulan atau bukti kuat yang mendukung dugaan dengan apa mereka berkomunikasi. Sampai saat ini tidak ada  bukti-bukti apakah manusia pada masa itu telah mengenal bahasa sebagai alat bertutur berkomunikasi satu dengan lainnya.

Bukti-bukti masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut berhasil ditemukan pada  1961 di Gua Selonding,Pecatu, Badung. Posisi gua ini berada di pegunungan kapur di Semenanjung Benoa. Sebenarnya ada dua gua, namun gua Karang Boma  tidak memberikan  bukti tentang kehidupan manusia pada masa purba.

Saat penggalian pada situs Gua Selonding ditemukan berbagai perkakas seperti alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang.  Salah satu alat-alat dari  tulang ada beberapa jenis lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.

Perkembangan selanjutnya adalah masa  bercocok tanam, Masa ini melalui  proses yang panjang dan tak bisa  dipisahkan dari usaha pemenuhan kehidupan manusia prasejarah. Masa neolithik sangat  penting dalam sejarah perkembangan  peradaban manusia, karena pada masa ini penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Kehidupan  mengumpulkan makanan atau food gathering berubah menjadi menghasilkan makanan atau  food producing. Perubahan menjadi titik tolak kemajuan pada peradaban manusia. foto source : Balai Arkeologi Nasional IC/VII/AND/30

Komentar Untuk Perjalanan Sejarah Kebudayaan Masyarakat Bali