• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica
  • Post last modified:23 November 2022
  • Reading time:3 mins read

Meski memiliki silsilah dari raja besar, namun perjuangan Raden Wijaya terbilang cukup berat. Ia tumbuh dan besar disaat banyak pergolakan politik serta pemberontakan dari kerajaan-kerajaan kecil yang awalnya tunduk dan patuh pada Singhasari.

Salah satu peristiwa yang merubah wajah sejarah Nusantara adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Jayakatwang, bupati Gelang-Gelang terhadap Singhasaru pada 1292. Peristiwa besar ini tercatat pada Prasasti Kudadu. Jayakatwang rupanya memanfaatkan kondisi Singhasari yang tengah lemah akibat hampir seluruh kekuataan militernya dikerahkan untuk melakukan ekspansi ke Sumatera.

Akibat kebijakan Kertanegara yang ekspansif tersebut, Jayakatwang melihat potensi untuk mengalahkan Singhasari. Raden Wijaya ditunjuk langsung oleh Kertanegara untuk membendung dan menumpas pasukan Gelang-Gelang yang menyerang dari arah utara Singhasari. Wijaya sukses melaksanakan tugas tersebut dengan berhasil memukul mundur pasukan Gelang-Gelang. Namun pasukan yang lebih besar justru menyerbu lewat selatan dan berhasil membunuh Kertanagara.

Membuka Desa Majapahit

Melihat situasi yang tidak menguntungkan itu, Raden Wijaya melarikan diri dan berlindung di Terung (Sidoarjo pada masa modern), namun karena terus dikejar- musuh ia melanjutkan pelariannya ke timur. Berkat bantuan kepala desa Kudadu, Wijaya berhasil menyeberangi Selat Madura untuk bertemu Arya Wiraraja, Raja Songeneb (Sumenep pada masa modern).

Arya Wiraraja menjadi sekutu Wijaya dalam merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang. Sebelumnya Wijaya sudah berjanji, jika rencana mereka berhasil, maka kekuasannya akan dibagi dua dengan Wiraraja. Awalnya Wiraraja menyampaikan berita ke Jayakatwang bahwa Wijaya sudah menyerah kalah. Jayakatwang menerima penyerahan itu dan menjemput Wijaya di pelabuhan Jungbiru.
Namun Wijaya meminta syarat, dirinya akan menanti dan bermukim di Hutan Tarik, guna mempersiapkan kawasan berburu bagi Raja Jayakatwang. Jayakatwang yang hobi berburu mengabulkan permintaan Wijaya tanpa curiga. Sementara Wiraraja mengirim masyarakat Songeneb untuk membantu Wijaya membuka hutan tersebut.

Kidung Panji Wijayakrama menceritakan ketika salah seorang Madura itu membuka hutan, ia menemukan buah maja yang ketika ia coba makan ternyata rasanya sangat pahit. Berdasarkan kidung itu, kawasan hutan Tarik itu diberi nama desa Majapahit yang dalam waktu singkat berubah menjadi kawasan pemukiman padat yang didirikan Wijaya.


Menjadi Raja Majapahit

Pada 1293, pasukan Mongol mendarat di Tuban dan Gresik. Menurut catatan Yuan, Kekuatan mereka 20.000 pasukan yang dipimpin oleh Jendral Ike Mese. Tujuan kedatangan itu adalah untuk menghukum Raja Kertanegara yang telah menghina utusan Kubilai Khan pada 1289.

Seperti berkah dari langit, Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan besar ini untuk menyerang Jayakatwang. Wijaya lantas menunjukkan pada Ike Mese dimana Raja Jawa yang mereka cari itu. Maka terjadilah perang besar antara pasukan Mongol, Wijaya dan Madura melawan Daha. Jayakatwang menyerah dan ditawan dalam kapal Mongol.

Setelah kemenangan itu, wijaya meminta ijin ke Ike Mese untuk kembali ke Majapahit mempersiapkan penyerahan dirinya. Sesampainya di Majapahit, Wijaya membunuh semua prajurit Mongol yang mengawalnya. Wijaya lantas membentuk pasukan dan melakukan serangan balik ke arah Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan. Serangan kilat itu membuat pasukan Mongol yang mati, bahkan Ike Mese memutuskan untuk menarik mundur pasukannya meninggalkan Jawa.

 

Candi Simping tempat Raja Majapahit Pertama di perabukan.

Wijaya kemudian menobatkan dirinya menjadi raja Majapahit. Menurut Kidung Harsa Wijaya, penobatan tersebut terjadi pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 Saka atau 12 November 1293.

Nagarakretagama menuliskan Raden Wijaya tutup usia pada 1309 dan diperabukan di Antahpura dan di candikan di Simping sebagai Harihara, atau perpaduan Wisnu dan Siwa. Sebagai penerus Raja Majapahit, Jayanagara ditunjuk menggantikan ayahhandanya. IC/AND/XII/03

Komentar Untuk Perjuangan Dyah Wijaya Raja Pertama Kerajaan Majapahit (2)