• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica
  • Post last modified:28 Desember 2022
  • Reading time:4 mins read

 

source : beritaku

 

Bukti-bukti sejarah dan arkeologi menunjukkan bahwa pada masa Majapahit telah hidup dan berkembang kepercayaan dan agama dengan berbagai alirannya secara berdampingan. Secara garis besar agama dan kepercayaan tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu agama Siwa-Buddha, kepercayaan asli, dan agama Islam.

Mengutipkan pernyataan Christoper Dawson: “Agama adalah kunci sejarah,   memahami hakekat tata masyarakat tanpa mengerti agama adalah tidak mungkin. Memahami hasil-hasil budaya  tanpa mengerti kepercayaan keagamaan yang menjadi latar belakangnya. Hasil utama budaya didasarkan pada gagasan-gagasan keagamaan dan diabdikan untuk tujuan keagamaan.

Pernyataan Dawson ini lantas  dikutip oleh Zoetmulder ini berlaku pada situasi dan kondisi Majapahit, sebab tampak bahwa sebagian hasil budaya materi yang terpenting dari masa itu menunjukkan latar belakang dan semangat keagamaan yang menonjol. Candi-candi, arca-arca dan beberapa jenis artefak lain jelas-jelas menunjukkan fungsinya sebagai benda yang dibuat untuk kepentingan pemujaan atau perlambangan agama tertentu.

Pada masa Majapahit, data mengenai ajaran agama dan ungkapannya dalam bentuk artefak keagamaan tersedia dalam jumlah yang cukup memadai. Menurut kitab Nagarakrtagama dan Arjuna Wijaya, di kerajaan Majapahit ada tiga pejabat pemerintah yang mengurusi agama, yaitu Dharmadhyaksa Kasewan yang mengurus agama Siwa, Dharmaddbyaksa Kasogatan yang mengurus agama Buddha, dan Menteri Herbaji yang mengurus aliran Karsyan.

Kemudian dari prasasti-prasasti dapat diketahui bahwa pejabat-pejabat di atas dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh sejumlah pejabat yang disebut Dharmsekte-sekte ma-upapatti. dan tertentu Siddhantapaksa Di antara seperti upapatti Bhairawapaksa.

Dilihat dari pejabat-pejabatnya, maka di Majapahit terdapat tiga agama utama, yaitu Siwa, Buddha, dan Karsyan beserta sekte-sekte yang menjadi cabang agama-agama tersebut. Agama dan sekte-sekte tersebut adalah yang resmi diakui keberadaannya oleh pemerintah Majapahit. Namun demikian perlu dicatat bahwa di luar agama resmi, khususnya di kalangan rakyat tampaknya kepercayaan Jawa Asli masih bertahan dan mengambil peranan dalam kehidupan masyarakat.

Dikalangan rakyat umum agama Jawa Kunalah yang lebih dominan, sedang agama Hindu hanya suatu selubung di luar saja. Agama Hindu yang sebenarnya hanya terdapat di lingkungan kraton dan biara-biara di mana Dewa Siwa, Brahma, Wisnu dipuja-puja,sedang yang hidup dalam hati rakyat dan berperanan dalam kehidupan sehari-hari adalah para leluhur dan roh-roh lainnya.

source : toriqmedia

Ditinjau dari segi agama dan kepercayaan yang dianut, masyarakat Majapahit merupakan masyarakat majemuk. Masalah yang timbul dari kemajemukan ini adalah bagaimana hubungan antara agama-agama dan kepercayaan ini dalam hubungannya dengan perilaku masyarakat. Pertanyaan ini muncul karena bagaimanapun juga kontak antar agama akan memberikan akibat-akibat tertentu pada masing-masing ajaran dan perilaku para penganutnya.

Mengingat ajaran suatu agama berpusat kepada kepercayaan kepada dewa-dewa atau tokoh yang didewakan, dan untuk keperluan pemujaan telah dibuat berbagai artefak keagamaan.

Kedudukan Dewa  dan Raja

Menurut kitab Arjunawijayadan Sutasoma karangan Mpu Tantular, Dewa Siwa, pada hakekatnya sama dengan Buddha. Hal ini tercermin dalam ungkapan-ungkapan yang tertulis dalam karyanya yang antara lain sebagai berikut:

“ndan kantenanya, haji, tan bana bheda san byan / byan Buddha rakwa kalawan Siwarajadewa/ kalih sameka sira san pinakesti dharma / rin dharma sima tuwi yan lepas adwiliya .. ”

yang artinya kurang lebih :

“demikianlah halnya, tuan tidak ada perbedaan antara Buddha dengan Siwa raja para dewa. Keduanya sama; mereka berdua adalah pelindung dharma baik di dharma sima maupun di dharma lepas, tak ada duanya”

“byan Buddha tan pabi lawan Siwarajadewa / rw?nekadh?tu winuwus wara Buddhawiswa / bhinneki rakwa rinapan/kena parwan?sen/ manka n jinatwa kalawan Siwatatwa tungal / bhinneka tungal ika tan bana dharma manrva.”

yang artinya:

“Dewa Buddha tidak berbeda dari Siwa. Mahadewa di antara dewa-dewa. Keduanya dikatakanmengandung banyak unsur; Buddha yang mulia adalahkesemestaan. Bagaimanakah mereka yang boleh dikatakan tak terpisahkan dapat begitu saja dipisahkan menjadi dua ? Jiwa Jina dan jiwa Siwa adalah satu; dalamHukum tidak terdapat dualisme?.

Selanjutnya dalam Arjunawijaya juga disebutkan bahwa Dewa Wisnu seperti Buddha dalam wujudnya yang tampak . Ungkapan-ungkapan bahwa Buddha tidak berbeda dengan Siwa yang tertulis dalam kitab Sutasoma menunjukkan  bahwa di Jawa pernah terjadi percampuran antara agama Siwa dan Buddha namun dengan catatan bahwa kedua agama tersebut tetap dapat dibedakan satu sama lain. IC/AND/XII/26

 

Komentar Untuk Toleransi Agama dan Kepercayaan Masyarakat Majapahit