• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Legenda
  • Post last modified:18 April 2022
  • Reading time:5 mins read

Ada dua pantangan yang tidak boleh dilanggar saat berkunjung ke tempat ini. Pengunggu gaib sumber Jubel akan berubah ganas bila pantangan itu dilanggar.

Tak sulit untuk mencari Sumber Air Jubel. Jika Anda menggunakan kendaran pribadi, Anda tinggal mengarahkan kendaraan menuju Dusun Gendom, Desa Kembangbelor, Pacet. Jalan desa dengan kondisi memandai walau tidak terlalu mulus telah tersedia. Lebih mudah menggunakan jasa ojek yang banyak tersedia di pertigaan Glagah. Anda hanya harus siapkan diri menempuh perjalan sekitar 10 kilometer sedikit menanjak untuk sampai ke lokasi.

Sesampai di pondok pesantren modern di Desa Kembangbelor, perjalanan terus mendaki hingga menuju perkampungan terakhir. Sumber Air jubel ini adalah instalasi air peninggalan Belanda. Bangunannya masih kokoh dan sangat terawat. Pada dinding batu kali didepan bangunan terpasang plakat besi bertulis 1929. Inilah penunjuk tahun pembuatan bagunan pompa air ini. Jika dihitung usia bangunan ini sudah 93 tahun, dan masih dalam kondisi yang sangat baik dan berfungsi.

Peninggalan Belanda ini sampai sekarang masih dipergunakan dan dimanfaatkan sebagai sumber utama air bersih bagi PDAM Mojokerto. Dengan ketinggian sekitar 600 m dpl, posisi instalasi ini sangat cukup mumpuni untuk mengalirkan air hingga ke Kota Mojokerto. Disekitarnya sumber air ini ditanami oleh aneka pohon-pohon rindang yang jika dilihat dari jalan terlihat seperti hutan. Sayangnya kondisi pagar berduri dan pintu gerbang yang selalu terkunci membuat beberapa orang pengunjung mengurungkan niatnya untuk melihat dan berkunjung.

“Terkesan kurang terawat dengan tumbuhan yang tidak teratur. Rumputnya tinggi dan pohonnya terlalu rimbun. Saya takut ular dan binatang buas lainnya. Sementara dibeberapa bagian ada lubang-lubang yang tersamar oleh ilalang,” keluh Hartono, siswa SMK yang mengaku mendapat tugas untuk melihat Sumber Air Jubel ini.

Apa yang dikatakan oleh Hartono tidak berlebihan. Kondisi kurang terawat sepintas memang tergambar jelas dari tampilan luar instalasi air ini. Menurut Salamin (63) petugas PDAM   Mojokerto, sekitar 1929 Belanda meresmikan saluran air itu untuk dialirkan ke seluruh wilayah sekitar. Salamin mengisahkan, dulu debit air Sumber Judul ini cukup besar, sekitar  70 liter perdetik. Namun sekarang kekuatannya sudah jauh berkurang hingga tingga sepertiganya saja atau sekitar  20 liter perdetik.

“Kalau dulu memang debitnya besar. Lingkungan sekitar masih terjaga, hutannya asri dan masih belum banyak lahan yang dibuka oleh penduduk. Menurut catatan, pada awal diresmikan hingga tahun 50an debit air bisa mencapai  70 liter perdetik. Tapi menginjak medio 90an, debit airnya merosot tajam hingga tinggal 20 liter perdetik. Sejak itulah muncul pelarangan penebangan pohon di radius   400 meter dari titik Sumber Air Jubel, harapannya air tetap terjaga debitnya.” Jelas  Salamin.

source : joe adimara

Yang menarik dari bangunan berarsitektur  khas jaman colonial ini adalah anggapan dan kepercayaan masyarakat yang menyebutkan bagunan ini sebagai tempat keramat. Warga sekitar Kembangbelor tidak mau sembarangan bermain atau berkunjung ke lokasi rumah pompa Sumber Jubel. Mereka menyakini setelah dibangun dan ditinggalkan oleh Belanda, bangunan ini memiliki aura mistis yang luar biasa. “Saya memang mendengar mitos masyarakat bahwa bangunan ini berdiri di atas areal atau lahan angker. Tapi selama ini saya belum pernah merasakan adanya gangguan. Memang kalau medengar suara-suara aneh saya sempat mengalami. Mungkin mereka juga tahu saya petugas disini,” kata Salamin sambil terkekeh.

Suasana hutan tropis dengan pohon-pohon besar, lingkungan yang masih asli memang bisa jadi membuat suasana menjadi dramatis. Setidaknya masyarakat menjadi tidak sembarangan dan menghormati wilayah tertentu.  Dan rasanya sangat wajar bila masyarakat setempat, areal sekitar sumber air ini dianggap sebagai tempat keramat. Uniknya masyarakat sangat mempercayai pantangan tertentu saat berada di lokasi Sumber Jubel. Mereka dilarang untuk bersin dan bersiul. “Saya tidak tahu mengapa tidak boleh bersiul dan bersin. Tapi itulah yang menjadi pantangan dan sampai sekarang masyarakt sekitar sangat mempercayainya,” sergah Salamin.

Karena terkenal angker, bebeberapa orang mengaku pernah melakukan ritual mistis ditempat ini. Ronggo, warga Dusun Jubel mengaku pernah melakukan ritual di lokasi Sumber Jubel ini. Menurut penuturan kakek empat  cucu ini, ritual yang ia lakukan saat tengah marak SDSB pada sekitar tahun 90an. “Yang saya ingat waktu saya mengantar teman dari Surabaya yang ingin mencari wangsit untuk tombokan. Semalam penuh kami berdua berdiam diri di lokasi itu. Pada sekitar pukul 21.00 hingga 02.00, kami terus  didatangi mahluk tinggi besar mirip gondoruwo serta kuntilanak. Mereka melempar kayu, mengoyangkan pohon dan melempari kami dengan lumpur,” kenang Ronggo.

Karena sering dipakai orang untuk menyepi dan mencari petunjuk judi togel itulah, daerah ini menjadi terkenal angker. Menurut warga, mahluk gaib seperti gondoruwo, kuntilanak hingga banaspati dilaporkan sering menampakkan diri dan mengganggu orang yang kebetulan melintas. “Mahluk itu semakin ganas kalau ada orang yang masuk atau berada di lokasi bersiul atau bersin. Tapi yang sering mengganggu jika ada orang melanggar pantangan ini biasanya kuntilanak. Mungkin kuntilanak tidak suka dengan kebisingan. Sebab banyak yang menyakini disekitar sumber ini, tempat kuntilanak beranak dan mengansuh anak-anak mereka,” ujar Ronggo.

Entah mengapa mendengar penuturan Ronggo itu, mendadak  seorang pengunjung  merasa ingin bersin. Rasa ada sesuatu yang menggelitik disekitar hidung. Dengan sekuat tenaga, orang tersebut  mencoba menahan keinginan bersin itu dengan memencet hidung kuat-kuat. Tentu saja kami semua  tak ingin sesuatu yang buruk terjadi mengingat saat itu hari sudah menjelang senja. IC/VII/AND/18

Komentar Untuk Dilarang Bersiul dan Bersin di Sumber Air Jubel