• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica
  • Post last modified:28 November 2023
  • Reading time:3 mins read
source : gana islamika

 

Bisa dibilang Kekaisaran Ottoman adalah pioneir dalam penggunaan senjata api dalam dunia Islam pada abad ke-16 M.Mesiu mulai dikenal dalam dunia Islam pada awal abad ke- 13 M. menurut catatn sejarah  abad ke-14 M pasukan  muslim sudah menggunakan tabung kayu yang diisi dengan bubuk mesiu atau panah api.Namun baru  abad ke-15 M, Kekaisaran Ottoman telah menunjukkan superioritas teknologi dalam dunia persenjataan dan  penggunaan meriam. Perubahan ini membawa pasukan Ottoman mampu merebut wilayah Konstantinopel pada 1453 M.  Penggunaan teknologi senjata api khas Ottoman ini juga menyebar ke Turkestan, Abbysina, Crimea, bahkan India hingga ke Nusantara.

Jika dirunut sejarahnya,  bubuk mesiu ditemukan oleh ahli kimia  Buddha dari China pada sekitar abad ke-9. Penemuan itu terjadi secara tidak sengaja saat membuat ramuan untuk hidup abadi. Kalium nitrat sudah ditemukan oleh kebudayaan China pada pertengahan abad ke-1, padahal sebelumnya belerang hanya dipakai sebagai obat. Namun,ketika para ahli kimia tersebut mencampurkan kalium nitrat, belerang, dan arang, zat tersebut sangat mudah terbakar bahkan meledak.

Penemuan bubuk mesiu itu pada awalnya hanya digunakan untuk  kembang api. Namun karena sifatnya yang mampu mendorong dan membakar, perkembangan selanjutnya menjadi  senjata api dan meriam. Meriam dan peledak genggam  adalah salah satu senjata api paling awal yang diciptakan di China dengan menggunakan bubuk mesiu yang ditemukan para alkemis Buddha tersebut. Meriam genggam kuno yang diciptakan terdiri dari tabung bambu berongga, diisi bubuk mesiu, dan proyektil kecil. Senjata api genggam kuno ini memiliki jangkauan yang masih sangat terbatas.

Pada abad ke-13, penggunaan bubuk mesiu mulai dikenal oleh Eropa dan Timur Tengah melalui perdagangan jalur sutra. Kemungkinan tekonologi dibawa oleh Bangsa Arab lewat perdagangan. Dan diyakini Kekaisaran Ottoman Turki  yang pertama menggunakan senjata api dan bubuk mesiu dalam pertempuran.

source : ngi

 

Pasukan militer yang menggunakan senjata api adalah pasukan artileri dan pasukan Janissary. Artileri Ottoman mulai menggunakan meriam tak lama setelah Pertempuran Varna melawan tentara Salib (1444 M) dan lebih pasti digunakan dalam Pertempuran Kosovo Kedua (1448 M). Namun catatan sejarah menuliskan penggunaan meriam paling epik ketika penyerbuan ke Konstantinopel di tahun 1453 M, Sultan Mehmed II menginstruksikan penggunaan meriam perunggu besar berisi bahan peledak yang  berbobot 19 ton, yang dibawa oleh 200 orang dan enam puluh lembu untuk mendorongnya. Meski meriam perunggu besar tersebut hanya dapat menembak tujuh kali sehari, namun efek ledakannya berhasil meruntuhkan tembok pertahanan  Byzantium. Capaian ini  menjadi simbol kemenangan pasukan Islam.

Sementara pasukan Janissary adalah pasukan elite Kekaisaran Ottoman yang bertugas melakukan pengawalan. Pembentukan Janissary  pada masa kepemimpinan sultan Orhan (1323-1362 M) dan Wazir Alaeddin. Penyempurnaan dari Janissary dilakukan pada kepemimpinam sultan Murad I (1362-1389 M).

Perekrutan Janissary dilakukan dengan sistem, pajak darah dimana anak laki-laki dari kawasan Balkan seperti Albania, Bulgaria, Yunani, Hungaria, Kroasia, hingga Serbia belatar belakang non muslim diadopsi dan dipungut untuk dijadikan pasukan yang berdisiplin tinggi. Pasukan Janissary ini lebih dahulu mualaf dan mulai diseleksi berdasarkan bakat dan dilatih sesuai dengan bidangnya seperti memanah, menembak, bertarung, ahli artileri, ahli agama, pengrajin, dan berbagai kehalian lainnya.

Pada tahap awal pasukan Janissary hanya dipersenjatai dengan busur, anak panah, dan pedang. Akan tetapi, pada masa Sultan Mehmed II, mereka telah dilengkapi  dengan senjata api dan menjadi mungkin pasukan infanteri pertama yang dilengkapi dengan senjata api di dunia. Janissary dianggap sebagai tentara modern pertama yang berdiri. bersambung – IC/AND/XVII/13

Komentar Untuk Kecanggihan Militer Ottoman di Museum Islam Indonesia Lamongan (1)