• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica
  • Post last modified:28 Desember 2021
  • Reading time:4 mins read

Strategi perang Soya-Soya dan naik perahu kora-kora, sukses mengantarkan Sultan Baabullah membebaskan Maluku dari cengkraman Portugis.

******************

Pada 31 Desember 1575, Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis sepenuhnya dari Maluku. Namun perjalanan dan usaha Sultan Baabullah tersebut tidak semudah membalik telapak tangan. Pada abad ke 16, Portugis telah menancapkan ‘kuku-kuku’ monopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Karenanya Portugis punya kepentingan besar di Maluku.

Sebagai Sultan Ternate, Baabullah tentu tidak mau tinggal diam daerahnya di kuasai orang asing. Portugis menyebut kerajaan Islam ini sebagai Kerajaan Gipsi, karena terus-menerus melakukan perlawanan dan tidak takut untuk berperang melawan Portugis.

Menyadari keganasan penguasaan dan eksploitasi Portugis pada wilayah dan rakyatnya, Sultan Baabullah bertekad tak cuma berniat menghancurkan lawan di area sekitar Ternate tapi juga seluruh Maluku. Taktik yang diterapkan raja muslim tersebut disebut sebagai strategi Perang Soya-Soya, artinya, “pembebasan negeri.”

Ilustrasi suasana perang Ternate lawan Portugis, Source: wiki

Perang Tiga Banding Satu

Perang berkobar hebat, meski kalah persenjataan dari Portugis, Ternate memiliki keunggulan dari jumlah pasukan penyerang. Tidak tanggung-tanggung, Ternate menyiappkan 2.000 armada kapal kora-kora dengan daya angkut 120.000 prajurit. Strategi ini diterapkan untuk mendesak orang-orang Portugis yang masih bertahan dalam Benteng Gamlamo.

K. Subroto dalam buku “Pengepungan Benteng Portugis: Kekalahan Superpower Portugis oleh Jihad Baabullah di Ternate” menjelaskan Perahu kora-kora milik Pangeran itu jauh lebih bagus daripada kapal layar milik Pereira atau Laksamana Portugis. Sementara jumlah pasukannya juga melebihi jumlah orang Portugis, berbanding tiga atau empat lawan satu.

Antara 1570-1571, Sultan Baabullah mengirimkan lima kapal kora-kora dengan 500 prajurit ke Ambon. Armada ini dipimpin Kapita Kalakinko dan Kapita Rubohongi, yang targetnya mengusir Portugis secara berangsur-angsur dari Maluku. Sultan berhasil merebut wilayah di Pulau Buru, Hitu, Seram, dan sebagian Teluk Tomini. “Setelah berhasil direbut, Ia mengunjungi pulau demi pulau, sambil menuntut pembaruan sumpah setia pulau-pulau itu, dan menjelajah sampai sejauh Makassar, dan penguasa daerah yang paling berkuasa di luar Jawa,” tulis K. Subroto dalam bukunya.

Source: net

Kora-Kora, Kapal Legendaris

Kora-kora biasa disebut Juanga atau Joanga sejatinya adalah perahu tradisional Kepulauan Maluku, Indonesia. Perahu ini multi fungsi yang dapat digunakan untuk perdagangan maupun untuk keperluan militer.

Ada yang menduga nama kora-kora ini berasal dari bahasa Arab, yakni Qorqora, yang berarti “kapal dagang besar.” Ada kemungkinan juga serapan dari bahasa Spanyol atau Portugis, caracora, coracora, dan carcoa.

Panjangnya kira-kira 10 meter dan sangat sempit, dengan berat kira-kira 4 ton. Bercadik bambu sekitar lima kaki (1,5 meter) dari setiap sisi, yang mendukung sebuah panggung bambu yang memanjang sepanjang panjang kapal. Lambung perahu terbuat dari kayu jenis Gufasa atau jenis Marfala.

Masyarakat Ternate, membagi kora-kora menjadi Juanga dan Kudunga. Bentuk Juanga lebih diperuntukan bagi sultan karena di bagian tengahnya dilengkapi dengan atap, sementara Kudunga adalah kora-kora yang digunakan untuk masyarakat umum.

Menggunakan armada kora-kora Sultan Babullah berhasil menaklukkan 72 pulau di Maluku. Uniknya para pengemudi dan pendayung perahu dayung tradisional Maluku ini berteriak ‘Mena Muria’, untuk menyesuaikan tolakan dayung mereka saat ekspedisi di pantai. Ini berarti ‘maju-mundur’, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi ‘Aku pergi-kami mengikuti’ atau ‘satu untuk semua-semua untuk satu’.

Komentar Untuk Kora-Kora, Kapal Perang Ternate Sukses Usir Portugis dari Maluku