• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica
  • Post last modified:29 Juni 2022
  • Reading time:4 mins read

Belanda melakukan blokade terhadap Banten untuk menjatuhkan harga lada, masyarakat segera menghentikan penanaman lada dengan kembali menanam padi. Dengan cerdik, sebagian warga Banten menanam tebu dan diolah menjadi gula, yang dibeli dengan harga mahal oleh pedagang Inggris.

***************

Mulai abad ke-15 hingga akhir Perang Dunia II (1945), Nusantara masih jadi pemegang rekor sebagai produsen lada terbesar di dunia. Hingga akhir masa kolonialisme Belanda, produksi lada Nusantara lebih dari 50.000 metrik ton pertahun.

Produksi lada Nusantara sempat turun tajam, ketika Jepang masuk dan berkuasa. Kebun-kebun lada ditelantarkan tak terurus. Jepang lebih mengutamakan penanaman tanaman pangan dan tanaman lainnya yang menunjang kepentingan perang Asia Timur Raya.

Perkebunan lada dapat ditemukan di Sumatera, Bangka, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Sulawesi. Meski lada sudah jadi komoditas internasional sejak awal Masehi, tapi tidak pernah dibudidayakan secara masif. Nusantara baru mengenal budidaya lada mulai abad ke-14. Penanaman lada menjadi sangat populer di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Pembukaan lahan baru untuk perkebunan pala pada masa kolonial, source: johorkaki

Banyak kerajaan yang sangat bergantung pada perdagangan lada sebagai sumber ekonominya. Pasai dan Pedir atau Pidie, dua kerajaan pertama di Aceh yang ekonominya bergantung pada perdagangan lada. Kemudian pada abad ke-16 muncul Kesultanan Banten dan Aceh yang ekonominya juga bertumpu pada komoditi lada.

Seabad kemudian, sumber Belanda menyatakan. di Kalimantan lada telah diperdagangkan secara komersial. Penanaman pohon lada di Kalimantan Selatan dikumpulkan di Banjarmasin untuk diperdagangkan secara lebih luas lagi.

Budidaya dan penanaman lada ini berkembang jadi perkebunan. Lada juga yang mendorong kegiatan pelayaran di Pantai Barat Sumatera menjadi berkembang. Perkebunan lada juga disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan pasar dunia terhadap komoditi ini.

Pada abad ke-16 M, Tome Pires dalam buku Suma Oreintal mencatat, wilayah Tiku dan Pariaman di Sumatera Barat tidak menghasilkan lada sama sekali. Namun pada akhir abad yang sama, sumber Belanda melaporkan beberapa daerah penghasil lada di Sumatera Barat di mana Tiku dan Pariaman termasuk di dalamnya.

Peningkatan produksi lada membuat aktifitas pelayaran ikut berkembang, Source: edibel history

Ini artinya terjadi perkembangan yang luar biasa pada kegiatan pembudidayaan dan perdagangan lada di pantai Barat Sumatera. Hal ini juga membuat banyak daerah di Sumatra Barat terintegrasinya ke dalam jaringan perdagangan Islam di Asia. Proses pengintegrasian dapat dilihat dari pengaruh Islam di daerah ini. Inilah yang mendorong percepatan pertumbuhan Islam di wilayah Sumatera Barat dan sekitar.

Tapi di Banten beda. Penduduk hanya menanam lada ketika permintaan pasar dunia terhadap lada meningkat. Ketika permintaan lada tinggi, penduduk Banten mengalihkan kegiatan pertanian mereka menjadi penanaman lada.

Sebaliknya ketika permintaan turun mereka dengan cepat mengubah penanaman lada menjadi pertanian tanaman pangan. Kejadian ini beberapa kali terjadi pada abad ke-17. Banyak catatan yang menyebutkannya, terutama ketika Belanda melakukan blokade terhadap Banten untuk menjatuhkan harga lada.

Masyarakat segera menghentikan penanaman lada dengan kembali menanam padi. Bahkan dengan cerdik, sebagian warga Banten juga menanam tebu yang ketika diolah menjadi gula, dibeli dengan harga mahal oleh pedagang Inggris yang ada di Banten.

Ilustrasi pedagang Banten yang menjual lada, Source: under voice

Karena bisnis lada ini menjanjikan banyak keuntungan, membuat penanaman lada tidak hanya diusahakan oleh penduduk. Keluarga dan kalangan kerajaan juga ikut bermain dibisnis ini. Di Sumatera penanaman lada berkembang di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh.

Sepanjang abad ke-17 penanaman lada menyebar ke bagian barat Pulau Sumatera bersama dengan meluasnya kekuasaan Aceh di wilayah ini. Perkebunan lada berkembang terutama di masa kekuasaan Kesultanan Banten. Sementara itu di Kalimantan,penanaman lada terutama berkembang di bagian selatan pulau ini di bawah kekuasaan Kesultanan Banjar. IC.

 

Ingin tahu info-info tentang sejarah Indonesia, indonesia culture dan beragam budaya yang ada di negara ini. ayo kunjungi saja www.indonesiancultures.com disini kamu akan belajar banyak tentang budaya, adat yang pernah ataupun terjadi di Indonesia

Komentar Untuk indonesia culture, indonesian culture, budaya indonesia, adat indonesia