• Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Post category:Historica
  • Post last modified:5 April 2023
  • Reading time:2 mins read

 

Desa Pejeng di Gianyar mungkin tidak begitu banyak dikenal orang. Namun, siapa sangka,  desa yang satu ini punya  nilai arti sejarah yang sangat penting di Bali. Desa Pejeng adalah  pusat pemerintahaan kerajaan besar pada zaman Bali Kuno.

Adalah GE Rumphias, seorang naturalis asal  Belanda, yang menulis laporan  berjudul Amboinsche Reteitkamser. Dalam laporan itu  Rumphias menulisakan  nama Desa Pejeng, ia juga menyebut adanya  genderang dari  perunggu yang kemudian lebih populer dikenal sebagai Bulan Pejeng.

Bulan Pejeng Penguak  Sejarah

Bulan Pejeng adalah artefak yang menjadi langkah awal menguak sejarah tersembunyi Desa Pejeng. Keunikan dari  Bulan Pejeng adalah bahan pembuatannya dari logam  perunggu. Awalnya gendering dikira terbuat dari  meteorit. Bahkan masyarakat  tidak ada yang berani menyentuh atau memindahkannya, karena mereka kira akan terjadi musibah jika dipindahkan.

Namun setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, diketahui Desa Pejeng memiliki peran sentral di masa lalu. Ditemukan juga  berbagai peninggalan penting dari kerajaan zaman Bali Kuno berupa tulisan. Dari beberapa artefak yang ditemukan,  diperkirakan  terdapat kerajaan di Pejeng pada rentang antara 883 sampai 1343 Masehi.

Tempat Berdirinya Kerajaan Bedulu

Penemuan benda-benda bersejarah tersebut membuktikan dulunya terdapat sebuah kerajaan besar yakni  Kerajaan Bedulu. Nama Pejeng sendiri pada era Bali Kuno sebenarnya  adalah Soma Negara. Banyak ahli berpendapat wilayah ini adalah ibu kota dari Kerajaan Bedulu. Karena lokasinya  berada di Pejeng banyak orang akhirnya menyebut kerajaan Bedulu sebagai Kerajaan Pejeng.

Pejeng sendiri  memiliki arti paying, hal ini mengacu pada lokasi dimana  raja Bali Kuno yang memerintah secara bijak dan memayungi rakyat. Bedulu adalah kerajaan yang memiliki peran penting  sebagai kerajaan yang mempertahankan wilayah Bali dari gempuran Kerajaan Majapahit  pada 1343.

Namun  Bedulu  tidak mampu menahan gempuran   Majapahit yang langsung  dipimpin langsung oleh Patih Gajah Mada. Sempat terjadi perlawanan atau pemberontakan  pada masa pemerintahan  Dalem Makambika  pada  1347, namun perlawanan itu berakhir tragis. Selanjutnya, wilayah Pulau Bali dibawah kontrol  Majapahit. Gajah Mada  menempatkan seorang raja atau dalem bernama Sri Kresna Kepakisan. Dari sinilah kemudian muncul kerajaan-kerajaan kecil di Bali yang merupakan keturunan dari Dinasti Kepakisan. IC/AND/XIV/05

 

 

Komentar Untuk Pejeng, Pusat Pemerintahan Kerajaan Bali Kuno